Jumat, 13 April 2018

HIKAYAT PENCIPTAAN MANUSIA DALAM KITAB RISALATUL MAJARROH PENGHULU SANGGAU 3

HIKAYAT PENCIPTAAN MANUSIA
DALAM KITAB RISALATUL MAJARROH PENGHULU SANGGAU

Bagian Ketiga :

Setelah tentara Malaikat meninggalkan bumi, sisa-sisa Bangsa Jin yang bersembunyi di pulau-pulau kecil yang beriklim tropis dan merubah bentuk mereka menyerupai hewan dan tumbuhan-tumbuhan rimbun, kembali berkumpul. Bangsa Jin yang merubah bentuk itu pun kembali ke bentuk semula. Di pulau-pulau kecil beriklim tropis inilah mereka membangun kembali peradaban mereka. Sisa-sisa Bangsa Jin ini mulai berkembang biak dan semakin banyak hingga membangun peradaban baru yang disebut Bangsa Banul Jan.
Bangsa Banul Jan ini tidak sekuat dan secerdas Bangsa Jin sebelumnya, namun mereka memiliki perilaku yang sangat licik melebihi Bangsa Jin sebelumnya. Untuk memperkuat peradaban mereka, Bangsa Banul Jan berusaha menyelinap ke Kerajaan Para Malaikat di langit. Ketika menyelinap ini Bangsa Banul Jan merubah bentuk mereka menyerupai hewan atau menyerupai tumbuhan rimbun agar tidak diketahui oleh Para Malaikat. Di Kerajaan para Malaikat ini Bangsa Banul Jan mencuri berbagai informasi dan rahasia teknologi Bangsa Malaikat.
Usaha menyelinap dari Bangsa Banul Jan membuahkan hasil, mereka dapat menembus Kerajaan Para Malaikat hingga ke langit ketujuh. Berbagai informasi penting dan rahasia-rahasia teknologi Bangsa Malaikat berhasil mereka curi, yang kemudian mereka bawa kepada Bangsa mereka untuk mereka pelajari.
Masa demi masa akhirnya Bangsa Banul Jan berhasil mempelajari dan menguasai rahasia teknologi yang dimiliki Bangsa Malaikat. Bangsa Banul Jan yang bersembunyi di pulau-pulau kecil beriklim tropis selanjutnya berani keluar dari tempat-tempat tersebut. Mereka semakin berkembang biak dan semakin banyak jumlahnya hingga ke penjuru bumi. Hingga akhirnya Bangsa Banul Jan berkembang menjadi 28 kerajaan, jumlah kerajaan yang lebih banyak dari kerajaan sebelumnya.
Namun ke 28 kerajaan tersebut tidak sama dengan delapan kerajaan sebelumnya yang saling berperang dan membantai satu sama lainnya. Ke 28 kerajaan tersebut telah berikrar untuk tidak saling serang karena mereka memiliki satu tujuan yaitu membalas dendam terhadap Bangsa Malaikat yang telah membinasakan Bangsa mereka sebelumnya. Bahkan Bangsa Banul Jan juga telah berencana untuk menguasai kerajaan-kerajaan Bangsa Malaikat yang berada di tujuh lapis langit.
Hingga pada masa ketika Bangsa Banul Jan telah yakin bahwa peradaban teknologi yang dimilikinya lebih unggul dari peradaban teknologi yang dikuasai Bangsa Malaikat, mulailah mereka melancarkan penyerangan ke kerajaan-kerajaan Bangsa Malaikat di langit. Sebelum aksi penyerangan, Bangsa Banul Jan telah terlebih dahulu membangun pelabuhan dan benteng yang kokoh di perbatasan atmosfer bumi. Pelabuhan dan benteng tersebut mereka sembunyikan sehingga yang terlihat adalah kumpulan awan.
Adapun salah satu cara mereka menciptakan awan yang menutupi pelabuhan dan benteng-benteng mereka adalah dengan menempatkan batu-batu petir ke berbagai penjuru perbatasan atmosfer bumi. Batu-batu petir adalah batu yang terbentuk dari sambaran petir ke bumi. Kemudian ditengah batu-batu petir tersebut mereka tempatkan Induk Batu Es atau yang sering disebut dengan Batu Kecubung Es. Batu-batu petir yang ditempatkan berkeliling diberbagai sudut itu, akan mengeluarkan energi satu sama lainnya yang selanjutnya akan menyerap energi Batu Kecubung Es yang berada di tengahnya sehingga terciptalah awan tebal yang kemudian menutupi pelabuhan dan benteng mereka. Teknologi seperti ini Bangsa Banul Jan dapatkan ketika mereka berhasil menyelinap ke kerajaan Bangsa Malaikat di langit ketujuh. Teknologi seperti ini kelak yang juga ditiru oleh Bangsa Manusia atau anak ketrurunan Adam di bumi ketika mereka membangun negeri.
Setelah tiba waktunya, maka Bangsa Banul Jan melakukan penyerangan ke Kerajaan Bangsa Malaikat yang bertebaran di tujuh langit. Kerajaan Bangsa Malaikat ini berada di atas garis langit yang terlindung dibalik lubang yang membentuk spiral. Lubang spiral tersebut berada di depan, belakang, sisi kiri dan kanan Kerajaan Bangsa Malaikat. Lubang spiral tersebut akan mengeluarkan petir jika didapati makhluk asing yang bukan Bangsa Malaikat yang mencoba memasuki Kerajaan Bangsa Malaikat. Selain itu terdapat juga lubang spiral berwarna hitam yang terus bergerak tanpa henti mengitari luar Kerajaan Bangsa Malaikat dan akan menghisap makhuk asing yang mencoba mendekati wilayah Kerajaan Bangsa Malaikat.
Namun karena Bangsa Banul Jan telah mengetahui jalan masuk ke Kerajaan Bangsa Malaikat sehingga dengan mudah mereka memasuki Kerajaan tersebut. Maka diseranglah kerajaan di langit pertama tersebut yang kemudian berhasil dikuasai oleh Bangsa Banul Jan. Selanjutnya Bangsa Banul Jan bergerak ke langit kedua, dan berhasil mereka kuasai. Kemudian mereka bergerak lagi ke langit ketiga dan keempat, yang juga dapat mereka kuasai.
Ketika Bangsa Banul Jan akan memasuki langit kelima, mereka mendapat perlawanan sengit dari Bangsa Malaikat yang dipimpin oleh Malaikat Mikail dan Malaikat Jibril. Ketika dibatas langit kelima ini Bangsa Banul Jan tidak sanggup membendung perlawanan Bangsa Malaikat. Bangsa Banul Jan bahkan terdesak dan mundur turun hingga ke langit pertama. Adapun tidak sanggupnya Bangsa Banul Jan menembus pertahanan Bangsa Malaikat di langit kelima kemudian menjadi Isyarat Wajibnya Sholat Lima Waktu bagi Umat Nabi Muhammad kelak. Sehingga orang yang lengkap Sholat Lima Waktunya tidak akan dapat di ganggu oleh Bangsa Jin.
Bangsa Malaikat yang telah mendesak Bangsa Banul Jan hingga ke langit pertama terus melancarkan serangan, sehingga membuat Bangsa Banul Jan kocar kacir dan berlindung di dalam pelabuhan dan benteng-benteng mereka di perbatasan atmosfer bumi. Bangsa Malaikat yang sangat geram dengan Bangsa Banul Jan kemudian menyerang pelabuhan dan benteng-benteng yang tersembunyi dibalik awan itu dari berbagai arah.
Pelabuhan dan benteng-benteng itu pun luluh lantak. Api berkobar-kobar dengan dahsyat sehingga ikut juga membakar atmosfer bumi. Kondisi bumi pada saat itu tertutupi kobaran api yang dahsyat sehingga menimbulkan cahaya merah menyala di alam semesta yang mengalahkan cahayanya matahari.
Melihat bumi yang telah tertutupi kobaran api tersebut, tidak menghentikan serangan Bangsa Malaikat, mereka terus melancarkan serangan sehingga berguguranlah pelabuhan dan benteng-benteng Bangsa Banul Jan jatuh ke bumi. Serpihan-serpihan pelabuhan dan benteng-benteng yang terbakar itu kemudian membakar muka bumi. Total menyeluruh muka bumi terbakar dengan hebat, sehingga makin dahsyatlah kobaran api dari bumi yaitu terbakarnya muka bumi dan atmosfer bumi. Kobaran cahaya merah menyala semakin besar hingga ikut menghanguskan berbagai benda yang ada di sekitar bumi. Kobaran api yang melanda bumi berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya padam juga kobaran api tersebut.
Setelah kobaran api itu padam, Bangsa Malaikat kemudian turun ke bumi untuk mencari sisa-sisa Bangsa Banul Jan yang masih hidup. Bangsa Banul Jan yang didapati selamat langsung di tangkap dan dikumpulkan. Bangsa Banul Jan ini kemudian dipenjarakan oleh Bangsa Malaikat dibawah gunung-gunung dibumi. Penjara dibawah gunung-gunung tersebut dibuat oleh Bangsa Malaikat untuk memasung sisa-sisa Bangsa Banul Jan yang masih hidup agar tidak lagi berbuat kerusakan di muka bumi. Namun masih ada juga sisa-sisa Bangsa Banul Jan yang masih hidup yang terlepas dari tangkapan Bangsa Malaikat karena mereka bersembunyi dibawah tanah yaitu dilapisan bumi pertama. Sisa-sisa Bangsa Banul Jan ini tidak berani keluar dari dalam tanah karena jika terlihat oleh Bangsa Malaikat maka akan ditangkap dan dipasung dibawah gunung.
Agar kejadian penyerangan Bangsa Banul Jan ke langit tidak terulang, Bangsa Malaikat kemudian membangun benteng-benteng penjagaan di atmosfer bumi. Benteng-benteng ini akan mengeluarkan petir dan menyambar sisa-sisa Bangsa Banul Jan yang terlihat muncul di permukaan bumi.

Bersambung .....



Kamis, 12 April 2018

HIKAYAT PENCIPTAAN MANUSIA DALAM KITAB RISALATUL MAJARROH PENGHULU SANGGAU

HIKAYAT PENCIPTAAN MANUSIA
DALAM KITAB RISALATUL MAJARROH PENGHULU SANGGAU

Bagian Kedua :

Tersebutlah Allah SWT telah menciptakan tujuh puluh bumi pada hari Ahad. Ketujuh puluh bumi itu Allah SWT himpun pada tujuh bumi di hari yang sama. Dan ketujuh bumi itu Allah SWT kumpulkan pada satu bumi di hari yang sama juga.
Adapun ketujuh puluh bumi yang terkumpul pada satu bumi itu terdapat dibalik Gunung Qaf dan anak-anak gunungnya yang bertebaran di muka bumi. Dibalik Gunung Qaf dan anak-anak gunungnya ini Allah SWT ciptakan alam yang luasnya menyamai alam semesta pertama. Sehingga selain ketujuh puluh bumi dari Misik atau Kasturi di cabang Syariat, terdapat juga tujuh puluh bumi dari Anbar di cabang Thariqat, tujuh puluh bumi dari Perak di cabang Haqiqat dan tujuh puluh bumi dari besi di cabang Makrifat. Di Balik Gunung Qaf dan anak-anak gunungnya Allah tetapkan zaman yang tidak akan terhapus atau memory peradaban masing-masing bumi beserta isinya sejak awal penciptaan hingga akhir zaman. Sehingga terkumpullah berbagai Ilmu Pengetahuan dan berbagai rahasia yang tidak akan hilang hingga akhir zaman.
Adapun luasnya bumi tempat terkumpulnya ketujuh puluh bumi tersebut adalah seluas 14.000 Farsakh. 1 Farsakh kurang lebih 8 Km. Namun kelak ukuran Farsakh ini menjadi kecil setelah adanya peradaban manusia di bumi yaitu :
1.         Peradaban Bangsa Sudan, luasnya bumi ini adalah 1.000 Farsakh.
2.         Peradaban Bangsa Romawi, luasnya bumi ini adalah 8.000 Farsakh.
3.         Peradaban Bangsa Persia, luasnya bumi ini adalah 3.000 Farsakh.
4.         Peradaban Bangsa Arab, luasnya bumi ini adalah 1.000 Farsakh.
5.         Peradaban Bangsa China dan Turki, luasnya bumi ini adalah 1.000 Farsakh.

Ukuran Farsakh ini juga menjadi ukuran perkembangan jarak peradaban atau teknologi dari masing-masing bangsa tersebut.
Selanjutnya Allah SWT ciptakan tempat jalan bintang-bintang. Kemudian Allah SWT ciptakan langit pertama dari air, langit kedua tercipta dari embun, langit ketiga tercipta dari besi, langit keempat tercipta dari perak, langit kelima tercipta dari emas, langit keenam tercipta dari mutiara dan langit ketujuh tercipta dari mira delima. Selanjutnya Allah SWT belah ketujuh langit tersebut sehingga masing-masing berjarak lima ratus tahun.
Selanjutnya Allah SWT menciptakan Malaikat dari cahaya. Kemudian Allah SWT menciptakan Jin dari nyala api. Tersebutlah Jin permulaan yang diciptakan Allah SWT dari nyala api yang menyala-nyala, tubuhnya dari inti api dan ruhnya dari cahaya karena setiap ruh yang bernyawa Allah SWT ciptakan dari cahaya di sisiNya. Jin permulaan ini bergelar Abal Jan atau Bapaknya Jin bernama Samum, yang diciptakan Allah bersama pasangannya.
Samum dan pasangannya kemudian ditempatkan di Surga untuk sementara waktu, hingga kemudian ia dan pasangannya diturunkan ke bumi. Ketika akan diturunkan ke bumi, Samum meminta kepada Allah SWT agar salah satu anak keturunannya kelak yang nantinya bernama Iblis ditempatkan di Surga, dan Allah SWT mengabulkannya, bahkan Allah SWT berjanji akan memberikan anak keturunan Samum yaitu Iblis berbagai ilmu dan kepandaian yang melebihi kepandaian Samum dan para Malaikat.
Allah SWT juga berkata bahwa Samum dan pasangannya ketika telah menginjakkan kakinya di bumi maka hanya Samum dan satu anak keturunannya yang dikehendaki Allah saja yaitu Iblis yang dapat menembus tujuh lapis langit dan sampai di Surga. Sedangkan anak-anak dan keturunan Samum lainnya tidak akan sanggup menembus tujuh lapis langit karena mereka telah menjadi makhluk bumi. Samum menyetujuinya. Maka turunlah Samum dan pasangannya ke bumi.
Pada saat itu bumi masih kering dan tandus. Air tawarnya masih sedikit. Air laut juga sedikit, karena lebih luas daratan daripada lautan. Oksigen sangat tipis karena Samum dan pasangannya adalah makhluk yang menghirup oksigen sangat sedikit. Samum dan pasangannya kemudian berkembang biak di bumi sangat banyak dan cepat.
Sambil beribadah kepada Allah SWT, Samum menjadi guru bagi anak keturunannya sampai beliau wafat. Selanjutnya keturunan Samum bertambah banyak, dan melahirkan generasi yang kuat dan cerdas. Ilmunya sangat hebat, karena pada masa itu keturunan Samum yang kuat belum ada pembinasaan dari Allah SWT, sehingga ilmu mereka bertambah terus sesuai bertambahnya umur mereka.
Keturunan Samum terus bertambah dan berkembang di bumi hingga terciptalah delapan kerajaan besar di bumi. Kerajaan ini terbagi menjadi Kerajaan bagian selatan, kerajaan bagian utara, kerajaan bagian timur, kerajaan bagian barat, kerajaan bagian bawah atau dasar bumi karena mereka bisa menembus ke tanah bahkan bermandikan dengan magma karena tubuh mereka lebih panas di bandingkan dengan magma Bumi. Kerajaan bagian atas atau langit bumi yaitu yang tinggal di sekitar atmosfer bagian atas Bumi. Kerajaan bagian darat atau di atas tanah dan kerajaan di air seperti di laut, danau dan aliran sungai.
Kedelapan kerajaan tersebut mengalami peradaban yang sangat maju di alam semesta. Teknologi mereka sangat modern yang belum ada tandingan sebelumnya. Ketika muncul kerajaan kedelapan, situasi di bumi mulai diguncang pertikaian diantara delapan kerajaan tersebut. Perang dan saling membantai satu sama lainnya terjadi. Hal tersebut karena kesombongan mereka yang merasa telah menguasai alam semesta akibat kecerdasan mereka yang luar biasa. Bahkan mereka beranggapan bahwa Allah tidak akan membinasakan mereka karena kecerdasan mereka telah melebihi kekuasaan Allah SWT.
Pada masa bumi sedang diguncang pertikaian diantara delapan kerajaan tersebut, lahirlah Iblis yang lebih senang beribadah kepada Allah dan menyendiri. Iblis yang tidak suka melihat kaumnya terus bertikai bahkan selalu berperang satu sama lainnya, lebih memilih menghindar dan beribadah kepada Allah SWT. Ibadah yang dilakukan Iblis bahkan melebihi ibadahnya Bangsa Malaikat, sehingga membuat Bangsa Malaikat memuji dan menjadi kagum dengan ketaatan Iblis kepada Allah SWT yang sangat luar biasa itu.
Allah SWT mengetahui perilaku Iblis yang tidak sama dengan kaummnya. Melihat Iblis yang tekun beribadah, maka Allah SWT anugerahi Iblis berbagai ilmu dan kepandaian yang melebihi kaumnya, dan melebihi kepandaian nenek moyangnya yaitu Samum. Bahkan kepandaiannya itu melebihi para Malaikat. Akhirnya Iblis diangkat Allah SWT ke Surga dan dianugerahi Kerajaan di Surga.
Ketika Iblis telah diangkat ke Surga, maka terjadilah perang besar antara delapan kerajaan Bangsa Jin di bumi. Perang tersebut sangat dahsyat. Bumi terguncang hebat oleh ledakan-ledakan senjata canggih bangsa Jin pada masa itu. Perang yang terjadi bukan hanya di bumi saja, mereka juga berperang hingga ke luar bumi dan memporak porandakan alam semesta akibat hantaman senjata-senjata canggih mereka.
Bangsa Malaikat yang mengetahui perilaku Bangsa Jin yang telah berbuat kerusakan terhadap bumi dan alam semesta, kemudian memohon perintah Allah SWT untuk menghancurkan dan membinasakan Bangsa Jin yang sedang berperang itu. Allah SWT memberikan perintahnya untuk membinasakan Bangsa Jin.
Maka turunlah 40.000 tentara malaikat yang dipimpin Malaikat Mikail dan Malaikat Jibril. 40.000 tentara malaikat tersebut dibagi dua, 20.000 tentara malaikat yang dipimpin Malaikat Mikail menyerang Bangsa Jin yang sedang berperang di alam semesta, dan 20.000 tentara malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril menyerang Bangsa Jin yang sedang berperang di bumi. Maka hiruk pikuk lah alam semesta pada masa itu. Alam semesta berguncang hebat, kerusakan terjadi disana sini akibat perang besar tersebut.
Rupanya tentara Malaikat yang dipimpin Malaikat Mikail dengan cepat membinasakan Bangsa Jin yang sedang berperang di alam semesta. Bangsa Jin ini pun binasa dan musnah. Namun tentara Malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril untuk menyerang Bangsa Jin di bumi mengalami kesulitan. Tentara Malaikat ini belum juga dapat menaklukkan Bangsa Jin di bumi bahka mereka malah terdesak. Hingga kemudian datanglah bantuan tentara malaikat yang dipimpin Malaikat Mikail, barulah Bangsa Jin di bumi mendapat perlawanan yang sengit dari tentara Malaikat.
Perang antara Bangsa Malaikat dan Bangsa Jin di bumi lebih dahsyat dari perang yang terjadi di alam semesta. Bumi hampir hancur dan ikut binasa akibat perang tersebut. Hingga akhirnya Bangsa Jin berhasil ditaklukkan, namun kerusakan yang terjadi di bumi sungguh luar biasa. Bisa dikatakan hampir seluruhnya Bangsa Jin yang binasa dan musnah. Bangsa Jin yang mati, oleh tentara Malaikat tubuh mereka di buang ke tengah laut bahkan ada yang di buang ke pulau-pulau kecil.
Namun terdapat sisa-sisa Bangsa Jin yang selamat dari dahsyatnya perang tersebut. Sisa-sisa Bangsa Jin ini melarikan diri dan bersembunyi di pulau-pulau kecil yang beriklim tropis. Bahkan agar terhindar dari penangkapan dan pembinasaan dari tentara Malaikat, sisa-sisa Bangsa Jin merubah bentuk mereka menjadi berbagai bentuk, yang kebanyakan merubah bentuk menyerupai hewan dan menyerupai tumbuhan-tumbuhan yang rimbun sehingga selamat lah mereka dari pembinasaan.
Sisa-sisa Bangsa Jin ini merupakan Bangsa Jin yang lemah dan tidak cerdas seperti bangsa Jin yang telah binasa. Namun setelah tentara Malaikat meninggalkan bumi karena tugasnya telah selesai, sisa-sisa Bangsa Jin yang lemah ini perlahan-lahan membangun peradaban baru yang disebut Bangsa Banul Jan.

Bersambung .......



Rabu, 11 April 2018

HIKAYAT PENCIPTAAN MANUSIA DALAM KITAB RISALATUL MAJARROH PENGHULU SANGGAU

HIKAYAT PENCIPTAAN MANUSIA
DALAM KITAB RISALATUL MAJARROH PENGHULU SANGGAU

Bagian Pertama :
Kitab Risalatul Majarroh merupakan salah satu Kitab pegangan para Penghulu Sanggau. Kitab ini dimiliki oleh jalur Penghulu Sanggau dari Hulu Kapuas dan Banjar, dan menjadi Kitab yang terwarsikan turun temurun. Dalam Kitab disebutkan rangkaian pengumpulan ilmu-ilmu yang terdapat dalam Kitab tersebut yaitu dari berbagai Ilmu Falak yang menjadi pegangan Orang Islam di Kalimantan yang disebut Kitab At-Thawali’ Al-Hadatsiyyah Lirrijal Wan Nisa’ dan berbagai Kitab yang menjadi pegangan Ilmu Perbintangan Bangsa Dayak yang disebut Tatu Hyang yang berarti Warisan Berharga Nenek Moyang. Dalam Kitab disebutkan juga tempat-tempat pengumpulan ilmu-ilmu yang terdapat dalam Kitab tersebut yaitu Merabu, Bensamar, Kuin, Telok Selong, Betaguh, Tungkaran, Keramat, Batenung, Pahandut, Hantapang Mujai, Lahoi, Pajange, Boyan, Merbang dan Sebetung.
Kitab Risalatul Majarroh berarti Kitab Risalah Berjuta Bintang. Kitab ini berisi tentang Ilmu-Ilmu Falak, penciptaan alam semesta dan manusia, Peradaban manusia, Pengobatan, berbagai aksara dan Mantra-Mantra sihir. Pada Bab Mantra-Mantra Sihir terdapat peringatan keras hanya untuk diketahui dan dilarang untuk dipergunakan karena disebutkan bahwa mantra-mantra tersebut merupakan bacaan yang diucapkan oleh bangsa Jin dan Syetan.
Dalam Kitab Risalatul Majarroh terbagi menjadi empat bagian, yaitu bagian pertama tentang Risalah Alam Semesta, bagian kedua tentang Ilmu Perbintangan Bangsa Dayak, bagian ketiga tentang Ilmu Falak Melayu Hulu, dan bagian keempat tentang Riwayat dan Silsilah Penghulu Sanggau. Pada bagian keempat ini terdapat tulisan sambung menyambung dari pemegang Kitab yang turun temurun yaitu keturunan Penghulu Sanggau. Kemudian terdapat juga catatan peristiwa-peristiwa penting tentang Kerajaan Sanggau dan Kerajaan-Kerajaan Lainnya hingga pada masa Penghulu Sanggau yang terakhir, pembagian waris Kerajaan dan Silsilah Leluhur serta waris anak keturunannya.
Pada Bab penciptaan manusia disebutkan bahwa pada permulaannya Allah SWT menciptakan sebuah Pohon yang diberi nama “Sajaratul Yaqin” yang berarti “Pohon Yakin” yang memiliki empat Cabang yaitu Cabang Syariat, Cabang Thariqat, Cabang Haqiqat dan Cabang Makrifat. Dari Pohon Sajaratul Yaqin ini selanjutnya menjadi Sejarah, Riwayat atau Silsilah.
Selanjutnya Allah SWT menciptakan Nur Muhammad dari sebuah Intan Putih yang serupa dengan Burung Merak. Kemudian Allah SWT meletakkan Burung Merak itu di Pohon Yakin tersebut. Selanjutnya Allah SWT menciptakan “Mir’atul Hayat” yang berarti “Cermin Kehidupan”. Allah SWT kemudian meletakkan Cermin Kehidupan tersebut didepan Burung Merak. Tatkala Burung Merak menatap cermin, terlihatlah bentuk dan wajahnya yang bagus dan elok, sehingga menjadi malu lah Burung Merak tersebut kepada Allah SWT sehingga bercucuran keringatnya sebanyak enam tetesan.
Kemudian dari tetesan pertama Allah menciptakan Ruh Abu Bakar RA. Dari tetesan kedua Allah menciptakan Ruh Umar RA. Dari tetesan ketiga Allah SWT menciptakan Ruh Utsman RA, dan dari tetesan keempat Allah SWT menciptakan Ruh Ali RA. Dari tetesan kelima Allah SWT menciptakan Bunga Mawar. Dari tetesan keenam Allah SWT menciptakan padi.
Selanjutnya Burung Merak tersebut berkeringat lagi dan bercucuranlah sebanyak tujuh puluh keringat. Dari tujuh puluh keringat tersebut, Allah SWT menciptakan tujuh puluh bumi yang terhimpun pada tujuh bumi, dimana ketujuh bumi tersebut berkumpul pada satu bumi.

BERSAMBUNG ......



Senin, 09 April 2018

SINGGASANA PELIAS DALAM ILMU FALAK MELAYU HULU

SINGGASANA PELIAS
DALAM ILMU FALAK MELAYU HULU

Pelias adalah seorang pemuka agama di negeri Morduli atau negeri Pamalaya. Dalam Ilmu Falak Melayu Hulu dan Ilmu Perbintangan Bangsa Dayak disebutkan bahwa manusia yang menempati bumi yang ke-70 disebut Daya yang berarti manusia yang berakal sempurna. Manusia Daya ini memeluk agama yang mewajibkan umatnya untuk selalu berpuasa sambil melaksanakan perjalanan yang disebut Morduli atau Pamalaya yang berarti perjalanan suci.
Pelias dianugerahi Tuhan kecerdasan yang luar biasa sehingga menguasai berbagai Ilmu Pengetahuan. Pelias ketika sedang melaksanakan Ibadah Morduli atau Ibadah Pamalaya, bertemu dengan serombongan manusia berbentuk serangga yang berasal dari Dunia Suba’ di negeri Rabai. Manusia Rabai ingin belajar bagaimana cara melaksanakan Ibadah Morduli atau Ibadah Pamalaya kepada Pelias, maka diajarkanlah oleh Pelias tata cara Ibadah Morduli atau Pamalaya. Sebagai imbal balik, rombongan Manusia Rabai mengajarkan kepada Pelias berbagai hal tentang negeri mereka, termasuk tata cara untuk pergi ke negeri mereka.
Adapun salah satu pelajaran yang didapatkan untuk pergi ke negeri Rabai yaitu sebuah alat yang dapat melintas ruang dan waktu. Alat tersebut berupa singgasana yang terbuat dari medan magnet sehingga terciptalah dinding pelindung yang membuat partikel jasad manusia dapat berubah karakter, yang kemudian disebut sebagai Singgasana Pelias.
Singgasana Pelias terdiri dari empat lingkaran dari magnet yang dalam masing-masing lingkaran tersebut diisi Induk Batu Intan mengelilingi lingkaran magnet tersebut. Di tengah keempat lingkaran magnet tersebut ditempatkan singgasana atau tempat duduk dari magnet. Keempat lingkaran magnet digerakkan dengan kekuatan medan magnet yang berada didalam ruangan tersebut. Medan magnet ini menjadi dinding ruangan tersebut dan terlindungi dengan lempengan batu hitam. Untuk mengaktifkan medan magnet agar dapat menggerakkan keempat lingkaran magnet dengan menggeser lempengan batu hitam.
Keempat lingkaran magnet memiliki fungsi yaitu jika lingkaran terluar pertama bergerak terlebih dahulu kedepan atau ke kanan, maka akan membawa manusia yang duduk di singgasana atau tempat duduk dari magnet ke berbagai tempat di bumi ke-70. Jika terlebih dahulu bergerak ke belakang atau ke kiri akan membawa manusia tersebut ke berbagai tempat di luar bumi ke-70. Jika lingkaran kedua bergerak terlebih dahulu maka akan membawa manusia ke luar dimensi tujuh lapis langit.
Jika lingkaran keempat bergerak terlebih dahulu ke arah depan atau ke kanan akan membawa ke masa depan di dalam bumi ke-70, sedangkan jika bergerak ke belakang atau ke kiri akan membawa ke masa lalu di bumi ke-70. Jika bergerak lingkaran ketiga terlebih dahulu akan membawa ke masa depan atau masa lalu diluar bumi ke-70.
Keempat lingkaran magnet tersebut bergerak sangat cepat, yang kemudian terciptalah lingkaran yang selanjutnya menjadi lubang disekeliling singgasana. Lubang tersebut berjumlah 24 lubang untuk tempat masuk manusia yang duduk di singgasana. Ketika manusia tersebut memasuki salah satu lubang, akan ditemui 24 lorong. Selanjutnya penghujung dari lorong-lorong tersebut akan ditemui 24 tangga yang menuju ke atas dan 24 tangga menuju kebawah. Penghunjung dari tangga-tangga tersebut akan ditemui 24 gerbang. Masing-masing gerbang akan ditemui 24 tirai. Masing-masing 24 tirai akan ditemui 24 negeri yang terbatasi oleh garis antara sisi yang terang dan sisi yang gelap. Dari garis ini manusia tersebut akan melihat siapa saja di negeri tersebut, namun orang-orang di negeri tersebut tidak dapat melihatnya. Manusia tersebut hanya tinggal melangkahkan kakinya saja untuk memasuki negeri tersebut.
Untuk kembali ke tempat asalnya, manusia tersebut harus mengingat tempat asal ia datang ke negeri tersebut, kemudian mengikuti arah yang harus ia ingat ketika tiba di garis pemisah antara sisi yang terang dan sisi gelap. Jika ia tidak dapat mengingatnya atau lupa, maka ia akan tersesat atau terperangkap dalam alam singgasana tersebut.

Jumat, 06 April 2018

PERLAWANAN MAKEDA

PERLAWANAN MAKEDA

Tersebutlah Negeri Ma'rib memiliki Raja bernama Raja Agung Rayan. Raja Agung Rayan memiliki anak bernama Raja Agung Dzil Jadn atau Raja Agung Malik. Raja Agung Malik memiliki anak bernama Raja Agung Sairah atau Raja Agung Syahrabil.
Adapun Raja Agung Syahrabil kemudian menikah dengan anak perempuan pemuka agama di Negeri Morduli atau Negeri Pamalaya bernama Raihana. Dalam beberapa riwayat ada yang menyebutkan bahwa Negeri Morduli ini merupakan salah satu negeri di Benua Pamalaya.
Leluhur Raihana merupakan Pemuka Agama di Negeri Morduli atau Negeri Pamalaya yang terkenal sangat cerdas dan menguasai berbagai Ilmu Pengetahuan. Bahkan disebutkan bahwa Leluhur Raihana menguasai teknologi yang sangat tinggi sehingga dapat menjelajah ke berbagai tempat di bumi dan di luar bumi, bahkan hingga keluar dimensi alam raya.
Raihana adalah anak perempuannya As Sakan. As Sakan adalah anaknya Zagros. Zagros adalah anaknya Elam. Elam adalah anaknya Asykira. Asykira adalah anaknya Pelias. Pelias dianugerahi Tuhan kecerdasan yang sangat luar biasa. Ia memahami dan menguasai berbagai Ilmu Pengetahuan. Bahkan Pelias banyak belajar berbagai hal dengan berbagai manusia di luar bumi, sehingga ia banyak menciptakan berbagai peralatan yang pada masa itu tergolong sangat canggih. Dari Pelias inilah Bangsa Morduli atau Bangsa Pamalaya menguasai teknologi.
Adapun Raihana ketika menikah dengan Raja Agung Sairah atau Raja Agung Syahrabil, maka dibawalah ia dari negeri Morduli atau negeri Pamalaya ke negeri Ma’rib. Dari pernikahan Raihana dengan Raja Agung Sairah dianugerahi seorang anak perempuan yang bernama Makeda atau Nikaula.
Suatu ketika Raja Agung Sairah meninggal dunia. Karena tidak memiliki anak laki-laki, maka pada saat itu diangkat lah Wali yaitu Paman Tiri Raja Agung Sairah bernama Mukrib Arim. Setelah Mukrib Arim menjadi Raja di Negeri Ma'rib, negeri tersebut dilanda prahara dan penderitaan.
Mukrib Arim merupakan seorang raja yang zalim. Ia selalu melakukan penindasan terhadap rakyatnya. Pada masa Raja Mukrib Arim ini, negeri Ma'rib dilanda tindak korupsi yang dahsyat yang dilakukan oleh petinggi-petinggi negeri Ma'rib yang juga merupakan pendukung Raja Mukrib Arim.
Bahkan akibat kekejaman Raja Mukrib Arim, Makeda dan keluarganya dibuang ke suatu perkampungan terpencil dan terisolasi dari dunia luar.
Suatu ketika Raja Mukrib Arim memantau perkampungan tempat Makeda dan keluarganya dibuang. Pada saat itu ada seorang anak kecil yang berasal dari pedalaman, tanpa sengaja tersesat dan masuk ke perkampungan tempat Makeda dibuang. Anak kecil tersebut tanpa sengaja telah melukai kaki binatang yang membawa kendaraan Raja Mukrib Arim. Maka murkalah Raja Ma'rib tersebut dan menangkap anak kecil tersebut.
Raja Mukrib Arim kemudian hendak memotong salah satu kaki anak kecil tersebut sebagai hukuman karena telah melukai kaki binatang yang membawa kendaraannya. Namun tindakan kejam Raja Mukrib Arim di tentang oleh Makeda dengan menyatakan lebih baik memotong kakinya sebagai ganti kaki anak kecil tersebut. Raja Mukrib Arim yang sedang murka itu semakin berang. Namun ia tidak berani untuk memotong kaki Makeda. Akibat kemarahannya, kaki Makeda dilukainya saja dengan senjatanya sehingga bercucuranlah darah dari kaki gadis malang tersebut. Setelah melukai kaki Makeda, Raja Mukrib Arim dan Pengawalnya pergi meninggalkan perkampungan tersebut, ia pulang ke pusat negeri Ma'rib.
Setelah peristiwa itu, anak kecil tersebut pergi keluar dari perkampungan Makeda, ia berusaha mencari jalan pulang hingga akhirnya berhasil juga ia sampai di tempatnya tinggal yaitu di pedalaman hutan pada sebuah gunung.
Anak kecil tersebut rupanya adalah anaknya seorang Pemuka Suku bernama Geroda. Geroda dan Sukunya merupakan anak keturunan dari Harut dan Marut dengan Ratu Baidakhat atau Ratu Zuhrah. Suku Geroda terkenal sangat kuat dan menguasai berbagai Ilmu Ghaib, warisan dari Harut dan Marut. Suku Geroda lebih memilih bermukim di pedalaman yang jauh dari jangkauan masyarakat karena tidak ingin terlibat dengan hal-hal negeri.
Maka bercerita lah anak kecil tersebut kepada ayahnya. Geroda setelah mendengar cerita anaknya tersebut sangat berhasrat untuk bertemu Makeda. Maka pergilah ia ke perkampungan Makeda. Ketika ia bertemu Makeda, maka geramlah ia melihat kondisi Makeda yang terlihat terluka kakinya karena membela anaknya dari kezaliman Raja Mukrib Arim. Geroda juga geram melihat penderitaan Makeda yang juga merupakan putri Rajanya yaitu Raja Agung Sairah, sehingga ia kemudian mengumpulkan semua pemuka suku di pedalaman untuk membela dan menolong Makeda dari penindasan Raja Mukrib Arim yang telah merampas hak dan kehidupan Makeda sebagai Putri Raja Agung Negeri Ma'rib.
Selanjutnya berkumpul lah berbagai pemuka suku pedalaman dengan membawa pasukan masing-masing di perkampungan Makeda. Dengan dipimpin oleh Geroda, pasukan dari pedalaman tersebut bersumpah setia kepada Makeda dan akan merebut Negeri Ma'rib dari penguasaan Raja Mukrib Arim yang durjana. Pasukan yang di pimpin Geroda kemudian membawa Makeda ke pusat Negeri Ma'rib dan mereka menyerang negeri tersebut.
Pasukan Geroda yang menguasai berbagai Ilmu Ghaib tersebut dengan mudah menaklukkan pasukan Raja Mukrib Arim. Bahkan Raja yang durjana tersebut mati terbunuh dalam penyerangan Geroda dan pasukannya ke istana.
Setelah matinya Raja Mukrib Arim dan telah dikuasainya Negeri Ma'rib, Makeda didaulat sebagai Raja Negeri Ma'rib dengan gelar Ratu Sheba. Ratu Sheba selanjutnya menikah dengan Nabi Sulaiman, dan bergelar Ratu Balqis. Dari pernikahan Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis dianugerahi beberapa orang anak yang salah seorangnya bernama Menelik yang berarti 'Anak Bijaksana'.


Kamis, 05 April 2018

PERADABAN MAGNET PADA JIMAT PELIAS DALAM ILMU FALAK MELAYU HULU


PERADABAN MAGNET
PADA JIMAT PELIAS
DALAM ILMU FALAK MELAYU HULU

Dalam Ilmu Falak Melayu Hulu Kapuas Kalimantan Barat, terdapat Jimat Pelias yang berfungsi sebagai pelindung tubuh, ladang, rumah atau negeri. Jimat Pelias diyakini memiliki kekuatan supranatural yang dapat menciptakan dinding ghaib. Jimat Pelias tersebut berupa logam magnet yang berbentuk bundar, namun ada juga yang berbentuk persegi empat. Logam magnet tersebut kemudian diberi tulisan atau istilahnya rajah dalam tulisan Suba’ atau tulisan serangga.
Setelah diberi tulisan, selanjutnya logam magnet tersebut diberi tali untuk dijadikan kalung. Namun ada juga yang digantung di pinggang atau pergelangan tangan. Pada bentuk Jimat Pelias yang lainnya, ada yang digantungkan pada pergelangan kaki. Jimat Pelias tersebut ada yang dibiarkan tetap terlihat logam magnetnya, namun ada juga yang dibungkus dengan kain kuning.
Pada Jimat Pelias yang berbentuk bundar dengan lubang ditengahnya, terdapat tulisan Suba’ atau tulisan Serangga yang setelah diterjemahkan perhuruf dalam huruf Arab Melayu didapatkan kata-kata “DAYA SA MALANZA FANAKA BANATUR”. Kata-kata tersebut jika diterjemahkan secara sederhana perkata yaitu sebagai berikut :
1. Daya  = Manusia Berakal Sempurna
2. Sa = Dan / Dengan
3. Malanza = Pengucapannya berbunyi “Malaysia” yang memiliki persamaan makna dengan “Malaya” atau Melayu, yang dalam hal ini bermakna Perjalanan Suci.
4. Fanaka = Pelindung Dinding Ghaib / Pelindung hal yang ghaib
5. Banatur = Memiliki kata dasar “Batur” yang bermakna Batu Agung / Batu Suci.

Dengan demikian terjemahan keseluruhan kata-kata tersebut secara sederhana yaitu “Manusia Berakal Sempurna dengan Perjalanan Sucinya menjadi Pelindung Dinding Ghaib tempat Batu Agung”.
Adapun penjelasan tentang Jimat Pelias yang menggunakan logam magnet dalam Ilmu Falak Melayu Hulu disebutkan bahwa pada masa dahulu, setiap akan membangun sebuah negeri, maka selalu terlebih dahulu ditanamkan sebuah medan magnet yang sangat besar dan memiliki daya tarik tinggi. Selanjutnya medan magnet tersebut ditutupi dengan lempengan batu hitam yang telah dipanaskan bolak balik pada suhu panas yang tinggi. Lempengan batu hitam tersebut kemudian di susun paling sedikit tujuh lapis, sesuai ketebalan batu tersebut.
Adapun medan magnet tersebut di tanam pada penjuru mata angin, yang paling sedikit empat penjuru, namun yang terbaik lebih dari delapan penjuru mata angin. Tujuannya adalah untuk menghilangkan gaya tarik bumi atau gaya gravitasi, sehingga jika negeri tersebut mendapat serangan musuh, dapat melakukan perlawanan yang luar biasa, yang diantaranya dapat terbang. Jika musuh masih berada diluar wilayah negeri, maka medan magnet tersebut dapat menciptakan ilusi bagi mata musuh. Cara memainkan medan magnet tersebut yaitu dengan menggeser lempengan-lempengan batu hitam yang tersusun. Medan Magnet dan susunan batu hitam juga di pasang pada tempat-tempat suci atau tempat ibadah, yang pada umumnya berbentuk altar. Adapun untuk dapat terbang ada lagi pengaturan medan magnet yang dipakai pada pakaian, dan untuk hal ini akan diuraikan pada postingan yang lain.
Beberapa tempat di Kabupaten Sanggau yang merupakan peninggalan peradaban Magnet diantaranya yaitu di Batu Sampai dan Pancor Aji.




Senin, 02 April 2018

AKSARA SUBA’ ATAU TULISAN SERANGGA DALAM ILMU FALAK MELAYU HULU



AKSARA SUBA’ ATAU TULISAN SERANGGA
DALAM ILMU FALAK MELAYU HULU

Aksara Suba’ atau Tulisan Serangga merupakan salah satu warisan tulisan masyarakat Melayu Hulu di Kalimantan Barat. Aksara Suba’ ini secara keseluruhan berjumlah 29 huruf. Pada masa sekarang ini Aksara Suba’ dalam Ilmu Falak Melayu Hulu hanya dipergunakan untuk membuat Pelias atau dinding ghaib untuk pelindung tubuh, ladang, rumah maupun wilayah negeri. Pelias ini dibuatkan seperti jimat atau wifik yang ditulis dalam sehelai kain kuning atau lembengan logam dan besi.
Berdasarkan riwayatnya dalam Ilmu Falak Melayu Hulu Kalimantan Barat, bahwa Pelias adalah nama awal manusia yang mendapatkan Aksara Suba’ dari manusia yang berasal dari Dunia Rabai, yaitu manusia berbentuk serangga yang datang ke bumi.
Tersebutlah pada masa dahulu di negeri Morduli seorang manusia yang memiliki kecerdasan luar biasa melakukan perjalanan suci yang merupakan salah satu ajaran agama yang dianutnya di negerinya tersebut. Morduli secara sederhana bermakna Perjalanan Suci, yang kemudian disebut juga sebagai Pamalaya. Di negeri Morduli atau negeri Pamalaya menganut ajaran agama yang salah satunya mewajibkan pemeluknya untuk melakukan Perjalanan Suci, yaitu berupa berpuasa sejak sebelum fajar hingga terbenam matahari. Ketika berpuasa ini, orang tersebut harus berjalan dan tidak boleh berhenti hingga terbenamnya matahari. Karena kewajiban agama bagi masyarakat di negeri tersebut sehingga negeri itu disebut sebagai Morduli atau Pamalaya, yang selanjutnya disebut Malaya atau yang sekarang disebut sebagai Melayu. Sehingga berdasarkan asal muasalnya, Melayu bermakna Perjalanan Suci sambil berpuasa sejak sebelum terbit fajar hingga terbenam matahari.
Adapun manusia di negeri Morduli tersebut ketika sedang melaksanakan Ibadah Morduli atau Ibadah Pamalaya, bertemu dengan serombongan manusia berbentuk serangga yang berasal dari Dunia Suba’ di negeri Rabai. Manusia Rabai ini ingin belajar bagaimana cara melaksanakan Ibadah Morduli atau Ibadah Pamalaya kepada manusia tersebut, maka diajarkanlah oleh manusia tersebut tata cara Ibadah Morduli atau Pamalaya. Sebagai imbal balik, rombongan Manusia Rabai mengajarkan kepada manusia tersebut berbagai hal tentang negeri mereka, yang salah satunya adalah Aksara Suba’, dan termasuk tata cara untuk pergi ke negeri mereka.
Adapun pelajaran yang didapatkan untuk pergi ke negeri Rabai ini, yaitu sebuah alat yang dapat melintas ruang dan waktu yang pada saat itu disebut Pelias. Pelias adalah sebuah singgasana yang terbuat dari medan magnet sehingga terciptalah dinding pelindung yang membuat partikel jasad manusia dapat berubah karakter. Untuk bentuk alat Pelias ini akan diuraikan pada postingan yang lain.
Manusia dari negeri Morduli yang memiliki kecerdasan luar biasa tersebut dengan cepat memahami pembuatan alat Pelias ini, sehingga ia dapat berkunjung ke negeri Rabai dan belajar banyak hal. Bahkan dengan alat Pelias ini, ia juga dapat berkunjung ke negeri mana saja di luar bumi. Karena sangat menguasai dan memahami pembuatan alat Pelias ini sehingga ia kemudian disebut sebagai Pelias. Adapun Aksara atau Huruf yang didapatkannya dari Manusia Rabai, terwariskan turun temurun kepada anak keturunannya yang tertentu di kalangan masyarakat Melayu Hulu Kalimantan Barat.
Aksara Suba’ pada periode berikutnya menjadi tulisan pada jimat atau wifik yang dipergunakan sebagai Pelias atau Pelindung pada tubuh, rumah, ladang ataupun wilayah negeri dalam adat masyarakat Melayu Hulu Kalimantan Barat. Penamaan jimat atau wifik tersebut dengan nama Pelias sebagai pengingat bahwa tulisan Suba’ pada jimat atau wifik merupakan warisan leluhur mereka yang bernama Pelias.
Adapun Pelias kemudian memiliki anak bernama Asykira. Asykira memiliki anak bernama Elam. Elam memiliki anak bernama Zagros. Zagros memiliki anak bernama Sakan atau ada yang menyebutnya dengan As Sakan. Dan As Sakan memiliki anak perempuan bernama Raihana. Raihana kemudian menikah dengan seorang Raja Agung bernama Sairah atau Syahrabil. Raja Agung Sairah atau Syahrabil adalah anaknya Raja Agung Dzil Jadn atau Malik. Raja Agung Dzil Jadn atau Malik adalah anaknya Raja Agung Rayan, di negeri Ma’rib.
Adapun Raihana ketika menikah dengan Raja Agung Sairah atau Syahrabil, maka dibawalah ia dari negeri Morduli atau Pamalaya ke negeri Ma’rib. Dari pernikahan Raihana dengan Raja Agung Sairah dianugerahi seorang anak perempuan yang bernama Makeda atau Nikaula. Makeda atau Nikaula kemudian menggantikan Raja Agung Sairah menjadi Raja di negeri Ma’rib dengan gelar Ratu Sheba. Ratu Sheba kemudian menikah dengan Nabi Sulaiman, dan namanya lebih dikenal dengan sebutan Ratu Balqis.

SUNGKUI THE TRADITIONAL CULINARY OF SANGGAU

Sungkui is a traditional Sanggau food made of rice wrapped in Keririt leaves so that it is oval and thin and elongated. Sungkui is a typical...