Senin, 15 Januari 2018

GUNUNG TIONG KANDANG : ASAL MUASAL ORANG MANGKIT


ORANG MANGKIT

Orang Mangkit adalah kelompok masyarakat yang bermukim di wilayah Gunung Tiong Kandang, Desa Temiang Mali Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau. Orang Mangkit menempati dusun yang bernama Dusun Mangkit. Orang-orang Mangkit dahulunya merupakan Bangsa Gholiks yang bermukim di negeri Thang Raya, yang pada zaman dahulunya terletak di kaki Gunung Niut. Ketika periode tahun 934 – 930 SM, terjadi letusan gunung berapi secara serempak pada beberapa tempat di bumi, termasuk salah satunya Gunung Niut. Letusan gunung api ini menyebabkan terjadinya gempa yang dahsyat dan banjir besar sehingga menghancurkan semua negeri di bumi, termasuk negeri yang berada diwilayah naungan Tampun Roban yaitu negeri Thang Raya yang pada masa itu menaungi dua bangsa yaitu Bangsa Gholiks dan Bangsa Sambas.
Orang Mangkit pada masa sebelum terjadinya letusan Gunung Niut merupakan salah satu armada perangnya Tampun Roban yang terkenal handal dan sangat ditakuti. Orang Mangkit memiliki kemampuan dalam memanjat. Mereka sangat cekatan dalam melakukan pemanjatan, meski tempat tersebut sangat tinggi. Karena kehandalan mereka dalam memanjat inilah sehingga disebut Mangkit yang artinya Pemanjat. Orang Mangkit ketika berperang selalu mengendarai seekor gajah atau Elephas maximus borneensis, sehingga Orang Mangkit disebut juga sebagai Pasukan Bergajah Mangkit miliknya Tampun Roban karena setiap berperang selalu mengendarai gajah.
Pasukan bergajah Mangkit ketika menyerang wilayah musuh, akan menghancurkan apa saja hingga rata dengan tanah. Sangat sulit sekali mengalahkan pasukan bergajah ini, karena sangat kuat dan handal dalam berperang. Ketika meletusnya Gunung Niut, Pasukan bergajah Mangkit bersama keluarganya menyelamatkan diri di sekitar wilayah Gunung Tiong Kandang, yang pada masa itu banyak ditumbuhi pohon kelapa. Mereka akhirnya memutuskan untuk menetap di sekitar wilayah Gunung Tiong Kandang. Pohon kelapa yang banyak tumbuh dikawasan Gunung Tiong Kandang menjadi sumber penghidupan mereka. Tidak sulit bagi mereka untuk memanjat pohon-pohon kelapa ini yang pada masa tersebut ukurannya cukup tinggi, karena mereka sangat handal memanjat. Tempat pemukiman mereka kemudian berkembang dari generasi ke generasi hingga saat sekarang ini.
Pada abad ke-2 Masehi, Prameswari Tampun Roban pada masa itu pernah mengirim Pasukan bergajah Mangkit ke wilayah Baekje atau yang sekarang disebut Korea. Tampun Roban pada masa tersebut sedang bersengketa dengan Raja Goguryeo. Karena tidak ada penyelesaian permasalahan diantara mereka dengan cara damai, maka Prameswari Tampun Roban kemudian mengirim Pasukan bergajah Mangkit dalam jumlah yang sangat banyak ke Baekje karena pusat kekuatan pemerintahan Goguryeo berada di Baekje.
Menurut beberapa riwayat ada yang mengatakan bahwa pengiriman Pasukan bergajah Mangkit tersebut setelah Prameswari Tampun Roban mendapat kabar bahwa suaminya telah menikahi Putri Raja Goguryeo. Karena tidak rela suaminya menikah lagi, dan didorong kecemburuan yang sangat besar, sehingga dikirimlah Pasukan bergajah Mangkit dalam jumlah yang sangat banyak ke Baekje.
Pasukan bergajah Mangkit mengamuk di Baekje. Negeri ini luluh lantak akibat serangan Pasukan bergajah Mangkit yang tidak terbendung. Sesuai perintah Prameswari Tampun Roban agar suaminya itu dibunuh, maka Pasukan bergajah Mangkit mencarinya sampai ketemu. Namun Pasukan bergajah Mangkit tidak menemukan suami Prameswari Tampun Roban di Baekje. Suaminya itu telah menyelamatkan diri ke wilayah Silla bersama Raja Goguryeo dan Putrinya. Selanjutnya, Pasukan bergajah Mangkit pergi ke wilayah Silla. Negeri tersebut bernasib sama dengan Baekje, luluh lantak diterjang amukan Pasukan bergajah Mangkit. Akhirnya suami Prameswari ditemukan di perbatasan negeri Silla. Ia pun tewas diinjak-injak oleh Gajah Orang Mangkit.

Ringkasan buku Gunung Tiong Kandang : Asal Muasal Orang Mangkit

GUNUNG TIONG KANDANG : ASAL MUASAL ORANG MANGKIT


ORANG MANGKIT

Orang Mangkit adalah kelompok masyarakat yang bermukim di wilayah Gunung Tiong Kandang, Desa Temiang Mali Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau. Orang Mangkit menempati dusun yang bernama Dusun Mangkit. Orang-orang Mangkit dahulunya merupakan Bangsa Gholiks yang bermukim di negeri Thang Raya, yang pada zaman dahulunya terletak di kaki Gunung Niut. Ketika periode tahun 934 – 930 SM, terjadi letusan gunung berapi secara serempak pada beberapa tempat di bumi, termasuk salah satunya Gunung Niut. Letusan gunung api ini menyebabkan terjadinya gempa yang dahsyat dan banjir besar sehingga menghancurkan semua negeri di bumi, termasuk negeri yang berada diwilayah naungan Tampun Roban yaitu negeri Thang Raya yang pada masa itu menaungi dua bangsa yaitu Bangsa Gholiks dan Bangsa Sambas.
Orang Mangkit pada masa sebelum terjadinya letusan Gunung Niut merupakan salah satu armada perangnya Tampun Roban yang terkenal handal dan sangat ditakuti. Orang Mangkit memiliki kemampuan dalam memanjat. Mereka sangat cekatan dalam melakukan pemanjatan, meski tempat tersebut sangat tinggi. Karena kehandalan mereka dalam memanjat inilah sehingga disebut Mangkit yang artinya Pemanjat. Orang Mangkit ketika berperang selalu mengendarai seekor gajah atau Elephas maximus borneensis, sehingga Orang Mangkit disebut juga sebagai Pasukan Bergajah Mangkit miliknya Tampun Roban karena setiap berperang selalu mengendarai gajah.
Pasukan bergajah Mangkit ketika menyerang wilayah musuh, akan menghancurkan apa saja hingga rata dengan tanah. Sangat sulit sekali mengalahkan pasukan bergajah ini, karena sangat kuat dan handal dalam berperang. Ketika meletusnya Gunung Niut, Pasukan bergajah Mangkit bersama keluarganya menyelamatkan diri di sekitar wilayah Gunung Tiong Kandang, yang pada masa itu banyak ditumbuhi pohon kelapa. Mereka akhirnya memutuskan untuk menetap di sekitar wilayah Gunung Tiong Kandang. Pohon kelapa yang banyak tumbuh dikawasan Gunung Tiong Kandang menjadi sumber penghidupan mereka. Tidak sulit bagi mereka untuk memanjat pohon-pohon kelapa ini yang pada masa tersebut ukurannya cukup tinggi, karena mereka sangat handal memanjat. Tempat pemukiman mereka kemudian berkembang dari generasi ke generasi hingga saat sekarang ini.
Pada abad ke-2 Masehi, Prameswari Tampun Roban pada masa itu pernah mengirim Pasukan bergajah Mangkit ke wilayah Baekje atau yang sekarang disebut Korea. Tampun Roban pada masa tersebut sedang bersengketa dengan Raja Goguryeo. Karena tidak ada penyelesaian permasalahan diantara mereka dengan cara damai, maka Prameswari Tampun Roban kemudian mengirim Pasukan bergajah Mangkit dalam jumlah yang sangat banyak ke Baekje karena pusat kekuatan pemerintahan Goguryeo berada di Baekje.
Menurut beberapa riwayat ada yang mengatakan bahwa pengiriman Pasukan bergajah Mangkit tersebut setelah Prameswari Tampun Roban mendapat kabar bahwa suaminya telah menikahi Putri Raja Goguryeo. Karena tidak rela suaminya menikah lagi, dan didorong kecemburuan yang sangat besar, sehingga dikirimlah Pasukan bergajah Mangkit dalam jumlah yang sangat banyak ke Baekje.
Pasukan bergajah Mangkit mengamuk di Baekje. Negeri ini luluh lantak akibat serangan Pasukan bergajah Mangkit yang tidak terbendung. Sesuai perintah Prameswari Tampun Roban agar suaminya itu dibunuh, maka Pasukan bergajah Mangkit mencarinya sampai ketemu. Namun Pasukan bergajah Mangkit tidak menemukan suami Prameswari Tampun Roban di Baekje. Suaminya itu telah menyelamatkan diri ke wilayah Silla bersama Raja Goguryeo dan Putrinya. Selanjutnya, Pasukan bergajah Mangkit pergi ke wilayah Silla. Negeri tersebut bernasib sama dengan Baekje, luluh lantak diterjang amukan Pasukan bergajah Mangkit. Akhirnya suami Prameswari ditemukan di perbatasan negeri Silla. Ia pun tewas diinjak-injak oleh Gajah Orang Mangkit.

Ringkasan buku Gunung Tiong Kandang : Asal Muasal Orang Mangkit

‘NYANGAHATN’ RITUAL ADAT KEPADA PENGUASA ALAM ATAS DAN ALAM BAWAH



‘NYANGAHATN’
RITUAL ADAT KEPADA
PENGUASA ALAM ATAS DAN ALAM BAWAH

Masyarakat Dayak secara turun-temurun meyakini bahwa dunia ini ada Penguasanya. Penguasa ini terdiri dari Penguasa Alam Atas atau Banua Mataso yang disimbolkan dengan gambar Burung Enggang, Penguasa Alam Bawah atau Banua Tindanum yang digambarkan dengan Baroae’ atau Naga, dan Penguasa Alam Tengah atau Banua Mantuari atau Manusia.
Bagi masyarakat Dayak, kedamaian dan ketentraman hidup di alam ini akan dirasakan bila di antara ketiga penguasa tersebut terjadi keharmonisan. Kekuasaan di alam ini akan menjadi bencana apabila di antara penguasa dan seluruh penghuni alam ini ingin saling menguasai.
Ketiga penguasa ini, tunduk kepada penguasa seluruh alam semesta atau Sampulo Padari atau yang disebut dengan Ranying Mahatalla Langit. Ranying Mahatalla langit adalah Yang Maha Kuasa, yang diyakini sebagai zat tertinggi penguasa alam semesta.
Menurut riwayat dalam tuturan lisan masyarakat Dayak, bahwa dahulu kala jauh sebelum alam semesta diciptakan, bertahtalah Sang Maha Pencipta yang memiliki nama-nama yang mencerminkan segala sifat Baik dan Mulia yang ada pada-NYA, yaitu :
1)        Sifatnya yang menjadi penyebab segala sesuatu, disebut dengan Jubata Nek Pajaji, artinya Jubata yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Tentang Jubata Nek Pajaji dikatakan bahwa Ia lah samula nang idup samula jaji, artinya Dialah Permulaan segala yang hidup dan segala yang ada.
2)        Sifatnya yang menciptakan. Ia menciptakan segala sesuatu dari dahulu hingga sekarang, Jubata Pencipta disebut dengan Jubata Nek Panampa’, artinya Jubata sang pencipta, yang diyakini sebagai pencipta alam semesta, manusia, binatang, tumbuhan dan makhluk-makhluk lainnya.
3)        Jubata adalah Esa. Jubata disebut dengan Jubata Nek Nange, “Nange” artinya Ia hanya satu-satunya atau tersendiri, tidak ada yang lain. Jubata Nek Nange diyakini tinggal di Subayangan atau sorga, setiap orang mati nyawanya tinggal bersama Jubata Nek Nange di Subayangan.
4)        Jubata yang berfirman. Disebut dengan, Jubata Nek Panitah, artinya Jubata Yang berfirman. Ia nang nitahatn untu’ ngalakuatn nang gagas, artinya Ia yang memerintahkan untuk melakukan yang baik. Dia yang dipertuan dan yang memerintah alam semesta, siapa yang berbuat jahat tidak disenangi Jubata, karena itu setiap orang yang jahat diyakini pasti dikutuk Jubata, akan mendapat sial atau bahaya.
5)        Jubata sebagai pemimpin. Disebut dengan Jubata Nek Pangorok, mengarahkan atau memimpin manusia dengan gambaran seperti induk ayam yang memimpin anak-anaknya, menunjuk kepada sifat Jubata seperti orang tua yang mengasuh dan merawat anak-anaknya, Ia nang ngampinakng talino dalapm idupannya, artinya Dia yang menyapa dan mengasuh manusia dengan lemah lembut dalam kehidupannya.
6)        Jubata yang melindungi. Disebut dengan, Jubata Nek Pangingu, artinya Jubata yang melindungi. Dalam doa mohon perlindungan diucapkan, ‘kami ba pinta ka’ kita Jubata ne’ Pangingu, supaya mayukngi’ kami, bare’ kami parise gunapm, nag tojekng di kita pampii’ nang tajapm di kita tumpuli’, artinya kami meminta kepada engkau Jubata yang melindungi, supaya memayungi kami, beri kami perisai pelindung, yang runcing engkau tumpulkan yang tajam engkau tumpulkan.
7)        Jubata yang mengawasi. Disebut dengan Jubata Nek Pangedokng, artinya Jubata yang melihat, mengawasi, memperhatikan, menilai, memantau. Dalam sifatnya menilai, Jubata Nek Pangedokng menilai segala sesuatu cocok atau tidak cocok, bagus atau tidak bagus, ia disebut juga “nang manto’ mutusatn pakara sae nang salah sae nang banar, Jubata Ne’ Pangedokng nang nauan,” artinya yang memutuskan sengketa siapa yang salah siapa yang benar, Jubata Nek Pangedokng yang mengetahui.

Ringkasan buku ‘NYANGAHATN’ Ritual Adat Kepada Penguasa Alam Atas dan Alam Bawah

AGUKNG

Agukng adalah alat musik tradisional Kalimantan yang mirip dengan gong. Alat musik yang dimainkan dengan cara ditabuh ini merupakan salah satu alat musik yang menyimbolkan dunia atas dan dianggap sakral. Alat musik Agukng dapat ditemui hampir diseluruh sub suku Dayak. Instrumen ini dipercaya oleh suku Dayak dapat mengusir roh-roh jahat dan mendatangkan roh para leluhur atau makhluk ghaib lainnya. Hal ini disebabkan oleh suara Agukng yang berbunyi agung untuk menyambut kedatangan roh para leluhur atau makhluk ghaib yang dapat membantu dalam melaksanakan ritual. Agukng atau Gong juga dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai alat musik yang diturunkan langsung oleh para dewa dari alam atas atau kayangan untuk dimainkan dalam upacara adat.
Secara umum instrumen dalam musik Agukng terbagi menjadi 8 jenis instrumen, yaitu Kakanong, Kampo, Kanayatn, Katukekng, Katukong, Kanayatn atau Katuku, Agukng dan Wayakng. Diantara 8 instrumen tersebut, yang biasa di gunakan hanya 3 jenis, yaitu Agukng, Kanayatn atau Katuku dan Katukeng. Nada yang dihasilkan Agukng ada 5 nada (sol) rendah, Katuku bernada 1 (do) dan Katukeng bernada 3 (mi). Intrumen ini merupakan intrumen kolotomis, ataupun instrumen sebagai penyekat nada yang dimainkan pada setiap birama.
Dalam kepercayaan masyarakat Dayak, alat musik Agukng menyimbolkan tiga dunia yang dapat dilihat dari bentuknya berupa lingkaran dan lubang. Lingkaran tersebut merupakan lambang tiga dunia dalam kepercayaan lama atau agama nenek moyang yang merupakan representasi religius dari tiga tahap kehidupan, yaitu lahir, menjalani hidup, dan mati.
Eksistensi tiga dunia yang digambarkan instrumen Agukng terletak pada jumlah instrumen. Kebanyakan instrumen yang digunakan dalam penyajian musik Dayak berjumlah tiga buah yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu Agukng, Kanayatn atau Katuku, dan Katukeng. Jumlah ini sesuai dengan konsep tiga dunia dalam kepercayaan masyarakat Dayak. Agukng sebagai instrumen yang karakter suaranya agung dilambangkan dengan Dunia Atas. Kanayatn atau Katuku menempati posisi paling tengah dianggap sebagai lambang Dunia Tengah, sedangkan Katukeng memiliki suara dan bentuk yang paling kecil diantara ketiganya yang dilambangkan sebagai Dunia Bawah.

Ringkasan buku Alat-Alat Musik Tradisional Kalimantan

HIKAYAT BURUNG TINGGANG

HIKAYAT BURUNG TINGGANG

Tersebutlah hikayat dari Tanah Kalimantan, tentang awal mula penciptaan alam dan kehidupan dimuka bumi, bahwa setelah terciptanya bumi, dimana belum terdapat manusia yang mendiami bumi, terdapat sebuah sungai yang besar dan panjang di Tanah Kalimantan. Sungai yang besar dan memanjang itu berkelok  dan bercabang, serta menyebar di seluruh penjuru pulau. Sungai tersebut berkelok-kelok tak ubahnya seekor naga yang meliuk-liuk dan membelah daratan. Air sungai tersebut berasal dari ketinggian pegunungan yang pada saat sekarang ini disebut sebagai pegunungan Muller. Pegunungan Muller merupakan jajaran pegunungan yang pada saat ini berada di batas provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Air yang berasal dari ketinggian pegunungan Muller tersebut mengalir dan membentuk empat anak sungai seperti sebuah pohon silsilah keluarga. Anak pertama ke arah barat yang disebut Kapuas, anak kedua ke arah timur yang disebut Mahakam, anak ketiga dan keempat ke arah tengah dan selatan yang disebut Barito. Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam memilih bermuara ke Selat Karimata, sementara Sungai Barito mengambil jalur lain ke Laut Jawa. Masing-masing sesuai urutannya dan telah tercatat sebagai sungai terpanjang di Indonesia.
Keempat anak sungai tersebut mengemban misi untuk menghidupi alam yang dilalui dan dikepungnya. Sebab itulah, maka daratan yang dilalui oleh keempat sungai tersebut disebut KALIMANTAN, yang bermakna “Kali” berarti sungai dan “Mantan” berarti besar. Dilain riwayat ada yang mengatakan bahwa Kalimantan berarti Sungai Intan, karena didasar sungainya banyak terdapat intan sehingga membuat air sungainya terlihat gelap. Namun ada pula riwayat yang mengatakan bahwa Kalimantan berarti bekas Sungai besar.
Tersebutlah Ranying Mahatalla Langit atau Tuhan Yang Maha Esa menurunkan dua butir telur burung yaitu telur burung Tinggang dan burung Elang dengan wadah emas atau Palangka Bulau yang dihiasi dengan Kalingkang atau kain bersulamkan emas di Datah Takasiang Rakaui Sungai Malahui, yaitu di atas sebuah batu granit hitam di hulu sungai Rakaui yang bermuara di sungai Malahui atau yang sekarang disebut sebagai Sungai Melawi di daerah Kalimantan Barat. Telur Burung Tinggang kemudian bernama Litih atau Tiung Layang, yang kemudian menjadi Jata atau mendiami dan menguasai alam atas, dan menjaga keseimbangan dengan alam bawah.
Adapun Litih atau Tiung Layang ataupun Jata, ketika masih berbentuk sebutir telur, maka menetaslah telur tersebut dan terciptalah seekor burung yang disebut sebagai Tatu Hyang. Tatu Hyang dalam bahasa Sangen atau bahasa Sangiang memiliki arti Permulaan Kehidupan Nenek Moyang. Burung Tatu Hyang kemudian terlogatkan menjadi Burung Tinggang atau Burung Enggang atau bahasa latinnya Rhinoplax vigil.
Burung Tinggang, ketika menetas dari telurnya, terbang kesana kemari untuk mencari air kehidupan. Pencarian air kehidupan itu merupakan perintah dari Ranying Mahatalla Langit agar Burung Tinggang dapat menjelma menjadi seorang manusia yang akan mengabdi dan menjaga alam dan kehidupan di bumi. Burung Tinggang terbang menyusuri Sungai Malahui atau Sungai Melawi mengikuti petunjuk dari Ranying Mahatalla Langit.
Hingga disuatu wilayah yang tertutupi oleh kabut hitam, Burung Tinggang mendapat petunjuk untuk turun ke wilayah tersebut. Namun Burung Tinggang tidak mampu untuk turun ke wilayah tersebut akibat kabut yang terlalu hitam. Burung Tinggang merasakan sesak dan kesakitan ketika berusaha menembus kabut hitam tersebut.
Ketika situasi semakin sulit, maka Burung Tinggang mendapat petunjuk dari Ranying Mahatalla Langit untuk mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sangen atau bahasa Sangiang yaitu “Mukei Hyang” yang kira-kira artinya “Tuhan berkata... Jadi, maka terjadilah...!”.
Maka atas kehendak dari Ranying Mahatalla Langit, kabut hitam yang menghalangi, perlahan-lahan memudar tertiup angin dan menghilang. Dan terlihatlah oleh Burung Tinggang sebuah daratan dengan aliran sungai yang airnya berwarna hitam namun dihiasi kelipan cahaya. Kelipan cahaya dari air sungai yang berwarna hitam itu adalah kelipan intan yang membentang didasar sungai. Pada daratan itu, terlihat pula pancaran cahaya disebuah tempat. Dengan sisa-sisa tenaganya, Burung Tinggang segera turun ke daratan itu dan langsung menuju ke tempat dimana pancaran cahaya tersebut terlihat.
Sesampainya ditempat pancaran cahaya itu, Burung Tinggang segera meminum dan mandi di mata air tersebut, hingga ia merasakan tubuhnya semakin pulih dan kuat. Didaratan tersebut, Litih atau Tiung Layang merasakan sangat nyaman dan tentram. Litih kemudian melakukan Balampah dan daratan tempat sumber mata air kehidupan tersebut kemudian disebut Mukei Hyang yang kemudian terlogatkan menjadi Moncank atau Mengkiang.
Adapun Burung Tinggang ketika terbang kesana kemari mencari sumber air kehidupan, sempat singgah di Negeri khayangan Atas dan Negeri Khayangan Bawah. Kedua Negeri Khayangan itu tertutupi awan. Di Negeri Khayangan Atas, Burung Tinggang melihat wujud dirinya yang sedang bertahtah diatas sebuah batu granit hitam berhiaskan intan. Burung Tinggang kemudian turun untuk bertemu dengan dirinya sendiri. Negeri Khayangan Atas dalam bahasa Sangen atau Sangiang disebut Mengkah Hyang, yang artinya Singgasana Nenek Moyang atau Negeri Khayangan Atas. Nama Mengkah Hyang kemudian terlogatkan menjadi Mengkayang, atau yang sekarang disebut Bengkayang.
Sedangkan di Negeri Khayangan Bawah, Burung Tinggang melihat cermin dirinya yang sedang bertahtah diatas sebuah batu granit hitam berhiaskan intan. Negeri Khayangan Bawah itu dalam bahasa Sangen atau Sangiang disebut Kenyah Hyang, yang artinya Cermin Nenek Moyang atau Negeri Khayangan Bawah. Kenyah Hyang kemudian terlogatkan menjadi Kenyalang, atau yang sekarang disebut Serawak.

Ringkasan buku Burung Tinggang : Asal Muasal Tanah Mengkiang



Minggu, 14 Januari 2018

HIKAYAT BURUNG TINGGANG


HIKAYAT BURUNG TINGGANG

Tersebutlah hikayat dari Tanah Kalimantan, tentang awal mula penciptaan alam dan kehidupan dimuka bumi, bahwa setelah terciptanya bumi, dimana belum terdapat manusia yang mendiami bumi, terdapat sebuah sungai yang besar dan panjang di Tanah Kalimantan. Sungai yang besar dan memanjang itu berkelok  dan bercabang, serta menyebar di seluruh penjuru pulau. Sungai tersebut berkelok-kelok tak ubahnya seekor naga yang meliuk-liuk dan membelah daratan. Air sungai tersebut berasal dari ketinggian pegunungan yang pada saat sekarang ini disebut sebagai pegunungan Muller. Pegunungan Muller merupakan jajaran pegunungan yang pada saat ini berada di batas provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Air yang berasal dari ketinggian pegunungan Muller tersebut mengalir dan membentuk empat anak sungai seperti sebuah pohon silsilah keluarga. Anak pertama ke arah barat yang disebut Kapuas, anak kedua ke arah timur yang disebut Mahakam, anak ketiga dan keempat ke arah tengah dan selatan yang disebut Barito. Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam memilih bermuara ke Selat Karimata, sementara Sungai Barito mengambil jalur lain ke Laut Jawa. Masing-masing sesuai urutannya dan telah tercatat sebagai sungai terpanjang di Indonesia.
Keempat anak sungai tersebut mengemban misi untuk menghidupi alam yang dilalui dan dikepungnya. Sebab itulah, maka daratan yang dilalui oleh keempat sungai tersebut disebut KALIMANTAN, yang bermakna “Kali” berarti sungai dan “Mantan” berarti besar. Dilain riwayat ada yang mengatakan bahwa Kalimantan berarti Sungai Intan, karena didasar sungainya banyak terdapat intan sehingga membuat air sungainya terlihat gelap. Namun ada pula riwayat yang mengatakan bahwa Kalimantan berarti bekas Sungai besar.
Tersebutlah Ranying Mahatalla Langit atau Tuhan Yang Maha Esa menurunkan dua butir telur burung yaitu telur burung Tinggang dan burung Elang dengan wadah emas atau Palangka Bulau yang dihiasi dengan Kalingkang atau kain bersulamkan emas di Datah Takasiang Rakaui Sungai Malahui, yaitu di atas sebuah batu granit hitam di hulu sungai Rakaui yang bermuara di sungai Malahui atau yang sekarang disebut sebagai Sungai Melawi di daerah Kalimantan Barat. Telur Burung Tinggang kemudian bernama Litih atau Tiung Layang, yang kemudian menjadi Jata atau mendiami dan menguasai alam atas, dan menjaga keseimbangan dengan alam bawah.
Adapun Litih atau Tiung Layang ataupun Jata, ketika masih berbentuk sebutir telur, maka menetaslah telur tersebut dan terciptalah seekor burung yang disebut sebagai Tatu Hyang. Tatu Hyang dalam bahasa Sangen atau bahasa Sangiang memiliki arti Permulaan Kehidupan Nenek Moyang. Burung Tatu Hyang kemudian terlogatkan menjadi Burung Tinggang atau Burung Enggang atau bahasa latinnya Rhinoplax vigil.
Burung Tinggang, ketika menetas dari telurnya, terbang kesana kemari untuk mencari air kehidupan. Pencarian air kehidupan itu merupakan perintah dari Ranying Mahatalla Langit agar Burung Tinggang dapat menjelma menjadi seorang manusia yang akan mengabdi dan menjaga alam dan kehidupan di bumi. Burung Tinggang terbang menyusuri Sungai Malahui atau Sungai Melawi mengikuti petunjuk dari Ranying Mahatalla Langit.
Hingga disuatu wilayah yang tertutupi oleh kabut hitam, Burung Tinggang mendapat petunjuk untuk turun ke wilayah tersebut. Namun Burung Tinggang tidak mampu untuk turun ke wilayah tersebut akibat kabut yang terlalu hitam. Burung Tinggang merasakan sesak dan kesakitan ketika berusaha menembus kabut hitam tersebut.
Ketika situasi semakin sulit, maka Burung Tinggang mendapat petunjuk dari Ranying Mahatalla Langit untuk mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sangen atau bahasa Sangiang yaitu “Mukei Hyang” yang kira-kira artinya “Tuhan berkata... Jadi, maka terjadilah...!”.
Maka atas kehendak dari Ranying Mahatalla Langit, kabut hitam yang menghalangi, perlahan-lahan memudar tertiup angin dan menghilang. Dan terlihatlah oleh Burung Tinggang sebuah daratan dengan aliran sungai yang airnya berwarna hitam namun dihiasi kelipan cahaya. Kelipan cahaya dari air sungai yang berwarna hitam itu adalah kelipan intan yang membentang didasar sungai. Pada daratan itu, terlihat pula pancaran cahaya disebuah tempat. Dengan sisa-sisa tenaganya, Burung Tinggang segera turun ke daratan itu dan langsung menuju ke tempat dimana pancaran cahaya tersebut terlihat.
Sesampainya ditempat pancaran cahaya itu, Burung Tinggang segera meminum dan mandi di mata air tersebut, hingga ia merasakan tubuhnya semakin pulih dan kuat. Didaratan tersebut, Litih atau Tiung Layang merasakan sangat nyaman dan tentram. Litih kemudian melakukan Balampah dan daratan tempat sumber mata air kehidupan tersebut kemudian disebut Mukei Hyang yang kemudian terlogatkan menjadi Moncank atau Mengkiang.
Adapun Burung Tinggang ketika terbang kesana kemari mencari sumber air kehidupan, sempat singgah di Negeri khayangan Atas dan Negeri Khayangan Bawah. Kedua Negeri Khayangan itu tertutupi awan. Di Negeri Khayangan Atas, Burung Tinggang melihat wujud dirinya yang sedang bertahtah diatas sebuah batu granit hitam berhiaskan intan. Burung Tinggang kemudian turun untuk bertemu dengan dirinya sendiri. Negeri Khayangan Atas dalam bahasa Sangen atau Sangiang disebut Mengkah Hyang, yang artinya Singgasana Nenek Moyang atau Negeri Khayangan Atas. Nama Mengkah Hyang kemudian terlogatkan menjadi Mengkayang, atau yang sekarang disebut Bengkayang.
Sedangkan di Negeri Khayangan Bawah, Burung Tinggang melihat cermin dirinya yang sedang bertahtah diatas sebuah batu granit hitam berhiaskan intan. Negeri Khayangan Bawah itu dalam bahasa Sangen atau Sangiang disebut Kenyah Hyang, yang artinya Cermin Nenek Moyang atau Negeri Khayangan Bawah. Kenyah Hyang kemudian terlogatkan menjadi Kenyalang, atau yang sekarang disebut Serawak.

Ringkasan buku Burung Tinggang : Asal Muasal Tanah Mengkiang












Sabtu, 13 Januari 2018

EKSPEDISI PAMALAYU

EKSPEDISI PAMALAYU

Ekspedisi Pamalayu bermula ketika Kerajaan Singhasari mendapat ancaman dari Raja Mongol yaitu Khubilai Khan. Kerajaan Singhasari pada masa tersebut dipimpin oleh Raja Kertanegara. Raja Kertanegara kemudian mengajak Raja Melayu di Dharmasraya untuk menghadang serangan dari Raja Khubilai Khan yang akan menaklukkan Jawa dan Sumatera. Namun ajakan dari Raja Kertanegara tersebut ditolak oleh Raja Dharmasraya. Akibat penolakan tersebut maka Raja Kertanegara kemudian mengutus Mahisa Anabrang atau disebut juga Lembu Anabrang atau Kebo Anabrang untuk menghimpun pasukan menuju ke Dharmasraya.
Mahisa Anabrang adalah orang Melayu keturunan Patih Suatang dan berasal dari aliran Sungai Kampar, ia mengabdi di Singhasari dan diangkat menjadi Rakryan di Kerajaan Singhasari. Sebelum pergi ke Kerajaan Dharmasraya, terlebih dahulu Mahisa Anabrang pergi ke negeri Nan Sarunai dan bertemu dengan Raja Nan Sarunai, Miharaja Rahadyan Japutra Layar.
Kepada Miharaja Rahadyan Japutra Layar, Mahisa Anabrang menyampaikan bahwa ia merupakan utusan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari yang akan menghimpun kekuatan guna membendung ancaman serangan dari Kekaisaran Mongolia, dan Miharaja Rahadyan Japutra Layar kemudian memberi petunjuk agar Mahisa Anabrang pergi menemui Raja Serongkah atau Demong Serongkah yang bergelar Raja Tulang Gading Darah Puteh, Raja Hulu Aik dan ke Angrat Batur yang sekarang ini terletak di Kabupaten Landak. Miharaja Rahadyan Japutra Layar juga berpesan kepada Mahisa Anabrang membawa banyak garam guna dibagikan kepada masyarakat di pedalaman Kalimantan.
Mahisa Anabrang kemudian pergi menemui Raja Hulu Aik dan ke Angrat batur. Dengan petunjuk dari Raja Hulu Aik, Mahisa Anabrang berusaha menghimpun pasukan disepanjang Sungai Melahui yang terlogatkan olehnya sebagai Sungai Malaya atau Sungai Melayu. Pemerintahan disepanjang Sungai Melahui pada masa itu berpusat di wilayah yang sekarang disebut Melawi, dengan Rajanya yang bernama Aban Merubai. Dari penduduk di sepanjang Sungai Melahui inilah kemudian menjadi asal muasal Orang Melayu di Kalimantan Barat.
Mahisa Anabrang ketika berusaha mengumpulkan pasukan di Kalimantan, sebanyak tujuh kali ia pulang pergi sehingga ia disebut Pulang Pali melewati sepanjang Sungai Melahui sambil membagi-bagikan garam yang ia bawa ke pemukiman-pemukiman penduduk yang ia temui. Hingga disuatu tempat di wilayah Kerajaan Hulu Aik, ia terjatuh sehingga kakinya terkilir. Tempat tersebut kemudian disebut Nek Lembu. Ketika peristiwa terjatuhnya Mahisa Anabrang ini, ia kemudian menikah dengan anak perempuan Raja Hulu Aik yang bernama Dara Ponya atau Dayang Ponya. Mereka memperoleh dua orang anak yaitu Nallauda dan Dayang Salipah. Nallauda ketika dewasa menggantikan Mahisa Anabrang menjadi petinggi di Wilwatikta atau Majapahit dan bergelar Mpu Jatmika atau Mpu Nalla. Ketika di Angrat batur, Mahisa Anabrang mendirikan sebuah kerajaan diwilayah tersebut yang bernama Kerajaan Landak, dan bergelar Ratu Sang Nata Pulang Pali I.
Setelah ribuan pasukan dari pedalaman Kalimantan telah terkumpul, maka dibawalah ribuan pasukan tersebut untuk menundukkan kerajaan-kerajaan di wilayah Sumatera dan Jawa yang kemudian disebut sebagai Ekspedisi Pamalayu. Ribuan pasukan Mahisa Anabrang ini ketika Ekspedisi Pamalayu membawa beberapa bendera yaitu bendera berwarna Merah, warna Kuning dan warna Biru serta bendera bersimbol Matahari.
Setelah Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1293 Masehi, ribuan pasukan yang berasal dari pedalaman Kalimantan ini, tidak semuanya kembali ke Kalimantan, beberapa kelompok ada yang tetap berada di Dharmasraya, kemudian beberapa kelompok ada yang menetap di wilayah Kerajaan Haru Kuta Buluh, beberapa kelompok menetap disepanjang wilayah tepian Sungai Asahan, beberapa kelompok menetap di wilayah Kuntu Kampar, dan beberapa kelompok menetap di Desa Loh.
Ketika Ekspedisi Pamalayu ke Dharmasraya, Mahisa Anabrang menikahi salah seorang Putri Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, Raja Dharmasraya yang bernama Dara Jingga. Mereka memperoleh putra yang bernama Adityawarman yang selanjutnya menjadi Raja Malayapura Swarnnabhumi yang kemudian pusat kotanya dipindahkan ke Pagaruyung.

Ringkasan Buku EKSPEDISI PAMALAYU 1275

SUNGKUI THE TRADITIONAL CULINARY OF SANGGAU

Sungkui is a traditional Sanggau food made of rice wrapped in Keririt leaves so that it is oval and thin and elongated. Sungkui is a typical...