Minggu, 25 Agustus 2019

Batu Pahat Sekadau dan Batu Sampai Sanggau


Diary 25 Agustus 2019,
23:00 malam, hari ke-117,
Aku ingin menyampaikan tentang Batu Bertulis Nanga Mahap Sekadau Dan Batu Sampai Sanggau. Batu Bertulis merupakan sebuah batu Andesit yang terpahatkan aksara atau tulisan di Kampung Pahit, Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Aksara dan bentuk pada Batu Pahat ini memiliki kemiripan dengan tulisan dan bentuk jimat warisan dari orang-orang tua masyarakat Sungkung. Pada jimat tersebut terdapat bentuk tiang Dhug atau Chatra yang membentuk empat arah. Tiang Dhug atau Chatra merupakan simbol dari tiang payung yang bermakna sebagai pelindung kehidupan.  Selain itu dimaknai juga sebagai jalan menuju ke alam abadi yang terlindungi.
Bentuk dari tiang Dhug atau Chatra ini bergerigi di masing-masing sisinya dan memiliki kemiripan dengan bentuk simbol pada pahatan di Batu Pahat Sekadau. Bedanya pada jimat milik orang Sungkung tersebut bentuk tiang Dhug atau Chatranya membentuk empat arah, sedangkan bentuk tiang Dhug atau Chatra pada bentuk pahatan di Batu Pahat Sekadau berbentuk tegak lurus keatas sebanyak delapan tiang. Dalam jimat itu terdapat tulisan di tengah, yang pada pahatan Batu Pahat, tulisan tersebut terdapat pada bagian atas pada tiang Dhug atau Chatra di tengah.
Bunyi dan makna aksara di Batu Pahat Sekadau berdasarkan persamaan bentuk dan bunyi dengan jimat orang Sungkung yang dibacakan dalam bentuk Pomang atau Mantra, yaitu membacanya dari tiang Dhug atau Chatra kiri ke kanan adalah sebagai berikut :
1.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang pertama tertulis dengan bunyi :
“Whisak pavitramay atmavinay dharaḷaṁ kannukalikay arukkan penaktiyay savikkunnay”.
Maknanya adalah pada masa purnama mengabdilah ke langit atas dengan memotong hewan ternak lembu yang banyak agar suci ruh dan jiwa menjadi tenang.
2.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kedua tertulis dengan bunyi :
“Mukaylilum taleyumay senehikkappetay nallay bhaṣa satayasandhamay sukṣikkuka”.
Maknanya adalah jaga bahasa yang baik dengan jujur agar disayangi di alam atas dan alam bawah.
3.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketiga tertulis dengan bunyi :
Niyamannay illayet sekharikkarut karanam raktam measam sevabhavattilay viylunnu”.
Maknanya adalah jangan berkumpul tanpa aturan atau jangan berzinah karena akan merusak keturunan yang akan sering berbuat jahat.
4.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang keempat tertulis dengan bunyi :
Jivitavasanam pare janika acchaneaṭum am mayeaṭum anusaraṇatteate samadhana  paramay  adarap  pular tuka vitinra tamas asthalay bahaksanay nalki sapat ommikkukay annay rajayattinay semam nelay nilkayay”.
Maknanya adalah hiduplah damai dengan hormat dan patuh kepada ayah dan  ibu yang telah melahirkan hingga akhir hidup mereka dan nafkahi orang tua selama tinggal bersama di rumah agar sejahtera negerimu.
5.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kelima tertulis dengan bunyi :
Samadhanatteatay jipikkukay whesak kannukalikay anum pennam ara jead tamasikkunnay rajyam santamakkukay”.
Maknanya adalah agar hidup  damai maka pada masa purnama potonglah hewan ternak lembu jantan betina satu pasang agar tentram negeri tempat tinggalmu.
6.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang keenam tertulis dengan bunyi :
“Perakrati nalkiyay senehat behinnippik ellay manusya reyum senehikkukay”.
Maknanya adalah sayangi semua makhluk manusia dengan membagi kasih sayang yang diberikan alam atas yang bercahaya.
7.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketujuh tertulis dengan bunyi :
Samadhanatteay jivikkukay whesak areagya mulatum sampan navumay ara kuṭumba bhavanattinay an ​​kannuk alikay ara jeati kannukalikay murikkukay”.
Maknanya adalah agar hidup damai pada purnama potonglah hewan ternak lembu jantan betina satu pasang agar sejahtera dan sehat semua keluarga di rumah.
8.        Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kedelapan tertulis dengan bunyi :
Perakrati ayacca kalppanaprakaram ella verkasanna luteyum vanam paripalikkukay”.
Maknanya adalah peliharalah alam hutan sesuai perintah yang diutus alam atas.

Batu Pahat Sekadau maknanya berisi delapan perintah atau aturan kehidupan dan ibadah yang berada dalam tiang Dhug atau Chatra sebagai simbol pelindung menuju ke alam atas. Salah satu perintah atau aturan kehidupan itu adalah kewajiban memotong atau berkurban lembu atau sapi pada masa bulan purnama. Hal ini memiliki persamaan dengan Prasasti Yupa Kutai yaitu memotong lembu atau sapi seperti dilakukan Raja Mulawarmman memberikan banyak sapi kepada kaum Brahmana untuk dipotong sebagai kurban.
Berdasarkan persamaan pelaksanaan ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi yang terdapat dalam makna bunyi tulisan di Batu Pahat Sekadau dengan Prasasti Yupa Kutai, maka tulisan di Batu Pahat Sekadau ini memiliki masa yang sama atau sezaman dengan keberadaan Prasasti Yupa Kutai. Namun jika di telaah dari aksaranya yang tidak beraturan dengan begitu banyak jenis abjad, maka kemungkinan aksara di Batu Pahat Sekadau ini lebih tua dari aksara pada Prasasti Yupa Kutai.
Selanjutnya, ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi ini juga memiliki kemiripan dengan ritual yang dilaksanakan agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan. Ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi dilaksanakan dalam ritual Tiwah. Artinya bahwa Batu Pahat Sekadau ini merupakan warisan peradaban masyarakat Kalimantan pada masa dahulu karena terdapat kemiripan dengan ritual Tiwah yang menjadi tradisi dalam agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan.
Adapun cara membaca aksara atau tulisan pada Batu Pahat di Sekadau ini berdasarkan cara baca jimat Orang Sungkung yang dibunyikan sebagai Pomang atau Mantra adalah dari bawah keatas.
Adapun Aksara di Batu Sampai Sanggau berdasarkan Jimat orang Tobak’ng yang dibacakan dalam bentuk Pomang atau mantra berbunyi “Dyaa’ diing’ d’oo’, Hyaa Kaiinangaxaii zaa’oona’ rhiinayith”. Maknanya yaitu Kesempurnaan Langit dan Bumi Keduanya, Tuhan Yang Maha Permulaan dan Maha Berkuasa Menciptakan Kehidupan. Adapun cara membaca Aksara di Batu Sampai Sanggau berdasarkan jimat orang Tobak’ng adalah dari kiri ke kanan dengan terdapat tanda bacanya. Dan Aksara ini disebut sebagai Aksara Gholiks atau Tulisan Batu.
Sebagaimana berbagai temuan purbakala di Kalimantan, seringkali temuan yang dapat dipindahkan kemudian dibawa keluar daerah atau keluar pulau dengan alasan untuk penelitian lebih lanjut, seperti yang terjadi pada Prasasti Yupa Kutai yang kemudian dibawa keluar pulau. Aku kira, jika nanti ditemukan lagi temuan purbakala, semestinya tetap saja benda temuan tersebut di daerah asalnya, jangan dibawa keluar. Jika pun akan dilakukan penelitian lebih lanjut, lebih baik Tim Peneliti saja yang datang ke tempat ditemukannya temuan purbakala tersebut. Karena jika benda purbakala tersebut dibawa keluar daerah, akan menghilangkan kesempatan bagi Putera Puteri Daerah untuk ikut meneliti dan mengkajinya. Karena bagaimanapun bahwa benda-benda purbakala tersebut memiliki hubungan dengan masyarakat setempat, sehingga masyarakat setempat khususnya Putera Puteri Daerah harus diberi kesempatan untuk meneliti dan mengkaji benda-benda purbakala tersebut. Namun jika benda-benda purbakala tersebut dibawa keluar daerah atau pulau, maka hal ini telah menghilangkan hak dan kesempatan bagi Putera Puteri Daerah untuk meneliti benda-benda purbakala tersebut.
Ada baiknya Pemerintah Daerah dimana ditemukan benda-benda purbakala tersebut membuat Peraturan Daerah tentang hal ini, yaitu setiap ditemukan benda-benda purbakala di daerah tersebut maka benda-benda tersebut tidak boleh dibawa keluar daerah tempat ditemukannya benda-benda purbakala tersebut. Karena keberadaan benda-benda purbakala itu pada tempat asalnya akan menjadikan kebanggaan bagi masyarakat di daerah tersebut, sekaligus sebagai bukti identitas Nenek Moyang mereka pada masa dahulu.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Kerajaan Kapuhas Katingan (Nan Sarunai) Dalam Prasasti Yupa Kutai


KERAJAAN KAPUHAS KATINGAN (NAN SARUNAI)
DALAM PRASASTI YUPA KUTAI

Prasasti Yupa ditemukan di Desa Brubus, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Prasasti Yupa ini berjumlah tujuh buah dan disebut Prasasti Yupa Kutai karena ditemukan di Kutai. Permulaan Prasasti Yupa ini ditemukan pada tanggal 9 September 1879 sebanyak empat Yupa oleh Asisten Residen Kutai. Penemuan itu dilaporkan kepada pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenchappen. Setahun kemudian keempat Yupa itu dibawa ke Batavia dan disimpan dalam koleksi Arkeologi di Museum BGKW yang kemudian menjadi Museum Nasional, dengan nomor inventaris D2 a-d.
Pada akhir tahun 1940, di daerah yang sama ditemukan kembali tiga Yupa. Seperti keempat Yupa sebelumnya, semua dibawa ke Batavia dan diberi nomor inventaris D175-D177. Tidak semua Yupa yang telah ditemukan dalam kondisi baik. Yupa dengan nomor inventaris D2 d aksaranya sudah terhapus dan tidak diketahui isinya. Pahatan yang masih terlihat jelas hanya bentuk segi empat kecil bekas kepala aksara yang disebut box-heads oleh JG. de Casparis. Melihat dari ciri-ciri gaya penulisannya, de Casparis menamakan aksara Kutai ini sebaga Early Pallawa atau Pallawa Tua yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 400 Masehi atau kira-kira setengah abad sebelumnya.
Makna yang terkandung dalam Prasasti Yupa merupakan hasil terjemahan dari JG. de Casparis, yang rupanya de Casparis merujuk pada Kroniks Fa Hsien, yaitu catatan salah seorang Pendeta Buddha berbangsa China yang melakukan perjalanan ke Varuna Dvipa (Pulau Dewa Laut / Kalimantan) tahun 399-414 Masehi. Artinya bahwa perkiraan tahun keberadaan Prasasti Yupa ini disebutkan sekitar 400 Masehi belum sepenuhnya dilakukan kajian sejarah yang mendalam, karena bisa jadi bahwa keberadaan Prasasti Yupa ini lebih tua dari tahun 400 Masehi yang telah ditetapkan.
Dalam terjemahan JG. de Casparis hanya menyebutkan tiga nama saja yang terdapat dalam Prasasti Yupa, sedangkan jika dilihat dalam Prasasti Yupa, begitu juga jika merujuk pada Kroniks Fa Hsien terdapat lima nama yang disebutkan, dan salah satunya adalah nama Raja Leluhur Kerajaan Kapuhas Katingan atau Nan Sarunai. Artinya memang belum optimal pengungkapan dan kajian isi dari Prasasti Yupa tersebut karena terdapat nama-nama yang tidak disebutkan.
Dalam salah satu Prasasti Yupa jelas-jelas disebutkan bahwa pemberian sapi yang banyak untuk dikurbankan dari Raja Mulawarman adalah untuk upacara memperingati kematian salah seorang Miharaja Leluhur Kerajaan Kapuhas Katingan atau Nan Sarunai. Jika merujuk pada proses pengurbanan atau pemotongan sapi dalam upacara kematian maka upacara adat ini adalah Ritual Tiwah yang merupakan ritual kuno masyarakat asli Kalimantan. Artinya Prasasti Yupa ini adalah warisan agama Kaharingan Kalimantan. Dan jika merujuk pada nama salah seorang Miharaja Kerajaan Kapuhas Katingan atau Nan Sarunai yang disebutkan dalam salah satu Prasasti tersebut, maka masa keberadaan Prasasti Yupa ini lebih tua dari tahun 400 Masehi.
Prasasti Yupa merupakan warisan peninggalan purbakala dari peradaban masyarakat dan agama asli Kalimantan pada masa dahulu yang sekarang ini disebut Kaharingan dan bukan peninggalan agama Hindu atau Buddha, karena dari ketujuh Prasasti Yupa, kata-kata Yupa selalu diulang-ulang yaitu pada Prasasti pertama nomor D2a, kedua D2b, ketiga D2c, kelima D175, dan ketujuh D177.
Yupa memiliki makna sebagai tempat mengurbankan sesuatu atau persembahan, yang dalam hal ini adalah sebagai tempat untuk mengikat sesuatu yang akan dikurbankan atau dipersembahkan. Itulah sebabnya mengapa Prasasti ini disebut Yupa yang berarti Tugu Peringatan Tempat Pengurbanan. Sehingga jelas sekali bahwa Prasasti Yupa ini merupakan peninggalan ritual Tiwah dalam agama Kaharingan.
Karena ditemukan di Kutai sehingga Prasasti Yupa ini disebut Prasasti Yupa Kutai, dan nama negerinya kemudian disebutkan sebagai Kutai. Padahal dalam salah satu Prasasti Yupa ada disebutkan nama negerinya tempat Raja Mulawarman berkuasa. Artinya keberadaan Prasasti Yupa ini memang belum optimal dikaji sejarah dan asal usulnya, karena hanya berpedoman pada terjemahan dari JG. de Casparis. Sedangkan de Casparis merujuk pada Kroniks Fa Hsien tahun 399-414 Masehi.

3 Sumber


Diary 24 Agustus 2019,
23:00 malam, hari ke-116,
Aku ingin menyampaikan kepada yang akan menulis tentang Sejarah Kalimantan. Berpeganglah pada ketiga sumber ini jika Anda akan menulis Sejarah Kalimantan, yaitu :
1.        Prasasti Yupa Kutai.
2.        Batu Pahat Sekadau.
3.        Batu Sampai Sanggau.
Maka Anda akan sampai ke Kalimantan. Karena ketiga sumber tersebut merupakan sumber yang otentik dan akurat sebagai peninggalan tertulis purbakala masyarakat Kalimantan pada masa dahulu. Jika Anda berpegang pada sumber lain, apalagi pada teori yang hanya sekedar teori, percayalah, Anda akan tersesat ke alam antah berantah yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Jumat, 23 Agustus 2019

PANEMBAHAN SINGKAWAK DAN PANEMBAHAN SENGGAOK


PANEMBAHAN SINGKAWAK DAN PANEMBAHAN SENGGAOK
Panembahan Singkawak beda dengan Panembahan Senggaok. Keduanya berbeda masa. Panembahan Singkawak yang menikah dengan Puteri Cermin, anak perempuannya Raja Kahhar. Pada masa kedatangan Raja Kahhar ke Singkawak inilah yang menjadi asal muasal nama Singkawang.
Dari pernikahan Panembahan Singkawak dengan Putri Cermin dikaruniai seorang anak perempuan bernama Utin Indrawati. Ketika berusia gadis, Utin Inderawati ditunangkan oleh Panembahan Singkawak dengan Raja Sambas bernama Ratu Anum Kusumayuda. Namun Utin Inderawati tidak bersedia bertunangan dengan Ratu Anum Kusumayuda karena merasa kurang cocok dihatinya. Maka pada masa inilah terjadi peristiwa “Pucuk Mempaoh”, yang menjadi asal muasal nama Mempawah. Kemudian terjadi juga peristiwa Perjanjian Batu Belah antara Panembahan Singkawak dengan Raja Sambas Ratu Anum Kusumayuda.
Sedangkan Panembahan Senggaok yang bersengketa dengan Opu Daeng Menambon, yang kemudian didamaikan oleh Raja Landak Ratu Bagus.

Daftar Judul Buku



Diary 23 Agustus 2019,
21:00 malam, hari ke-115,
Ku terima beberapa WA yang mempertanyakan daftar judul bukuku. Aku pun mengirimkannya. Namun aku berpikir, mungkin lebih baik aku posting saja daftar judul buku yang telah ku tulis. Terdapat beberapa judul buku umum, namun kebanyakan merupakan buku-buku sejarah dan budaya.
Awal mula aku menulis buku-buku ini yaitu pada tahun 2012 aku berencana akan menulis tentang sejarah dan budaya. Aku pun meminta izin kepada beberapa tokoh masyarakat. Mereka mengizinkannya dengan syarat bahwa setiap apa pun yang ku temukan dalam mengumpulkan bahan-bahan tulisanku maka harus aku laporkan kepada mereka. Pahit getirnya hasil temuanku itu mereka harus tahu. Aku pun menyanggupinya. Maka mulailah aku mengumpulkan data-data sebagai bahan tulisanku.
Pada saat itu aku dibantu oleh Pak Nan Uban di Setompak. Pak Nan banyak membawaku ke tempat-tempat agar aku mendapatkan data sebagai bahan tulisanku. Banyak data-data, dokumen, photo dan berbagai sumber yang ku kumpulkan bersama Pak Nan.
Setiap kali aku mendapatkan data-data, selalu aku laporkan kepada beberapa tokoh masyarakat tersebut. Hingga ke beberapa kali laporanku, mereka mulai tidak bersedia menerimaku lagi. Karena setiap data-data yang ku laporkan tidak seperti yang diharapkan. Mereka pun mulai membatasi aku untuk bertemu mereka lagi.
Hingga kemudian semakin banyak data yang ku kumpulkan. Aku menjadi bingung, bagaimana dengan data-data yang telah ku kumpulkan ini? Sedangkan aku sudah tidak bisa lagi bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat itu untuk melaporkan berbagai hasil temuanku karena mereka sudah tidak bersedia lagi menerimaku.
Dengan melihat begitu banyak data-data yang telah ku kumpulkan, akhirnya aku mulai menulisnya satu persatu. Tujuanku agar setiap temuanku tidak hilang begitu saja dan terangkum dalam sebuah buku. Setelah menjadi sebuah buku, aku daftarkan ISBN nya. Dan ku sampaikan buku-buku tersebut ke Perpustakaan Nasional di Jakarta dan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak. Yang kufikirkan hanya menyelamatkan berbagai temuan saja, sehingga dalam pencetakannyapun sangat terbatas. Sekedar cukup untuk disampaikan ke Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Provinsi serta arsip pribadiku. Semoga ini bermanfaat kelak, dan dapat membuka wawasan masyarakat untuk “Melek Sejarah”.

Kamis, 22 Agustus 2019

Kalimantan, Peradaban Tertua di Nusantara


Diary 22 Agustus 2019,
19:00 malam, hari ke-114,
Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana proses peradaban sejarah dan budaya di Nusantara ini. Akalku pun mulai mengkaji, apa-apa yang menjadi sumber otentik di Nusantara ini yang tidak terbantahkan dan telah diakui ke akuratannya. Satu persatu Akalku mulai mengkaji setiap teori dan temuan purbakala yang dapat ku jadikan dasar untuk membuat kesimpulan tentang proses peradaban sejarah dan budaya di Nusantara.
Dalam proses mengkaji, Akalku mulai menyingkirkan setiap teori yang banyak berseliweran disana sini karena Akalku berkata bahwa teori-teori tersebut tidak ditemukan sumber utamanya. Kebanyakan hanya menggiring opini khalayak agar demikian sejarahnya tentang proses peradaban sejarah dan budaya Nusantara.
Hingga kemudian Akalku menuntun aku untuk mengkaji setiap temuan purbakala yang telah diakui keakuratan dan keotentikannya. Maka sampailah aku pada temuan Transkrip Purbakala yang menjadi rekam sejarah pada masa dahulu yaitu Prasasti Yupa Kutai.
Prasasti Yupa Kutai merupakan Transkrip Purbakala yang telah diakui keakuratan dan keotentikannya dalam menjelaskan situasi peradaban sejarah dan kebudayaan masyarakat Nusantara pada masa dahulu. Selain Prasasti Yupa Kutai, belum ada temuan yang diakui dapat menyamai kedudukan Prasasti Yupa Kutai. Sehingga Prasasti Yupa Kutai adalah sumber tertulis tertua di Nusantara.
Prasasti Yupa Kutai telah diakui sebagai petunjuk keberadaan Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan Tertua di Nusantara. Artinya sebagai Kerajaan tertua di Nusantara, maka Kerajaan Kutai merupakan sumber awal proses peradaban sejarah dan kebudayaan di Nusantara.
Bukankah demikian? Setiap yang tertua, tentunya akan mempengaruhi proses perkembangan baik bentuk, ciri dan perilaku bagi mereka-mereka yang lebih muda. Karena mustahil jika yang muda-muda membawa pengaruh kepada yang lebih tua.
Untuk hal ini maka aku katakan, bahwa setiap apa-apa yang ada di Nusantara ini adalah hasil dari pengaruh peradaban Sejarah dan Kebudayaan tertua di Nusantara yang dalam hal ini adalah Kerajaan Kutai yang telah diakui sebagai Kerajaan tertua di Nusantara. Artinya setiap perkembangan kerajaan-kerajaan di Nusantara ini baik dari bentuk, ciri dan perilaku merupakan hasil pengaruh dari Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan Tertua yang berada di Kalimantan. Dengan kata lain adalah peradaban Sejarah dan Kebudayaan Kalimantan telah membawa pengaruh kepada peradaban Sejarah dan Kebudayaan di Nusantara.
Jika kemudian ada yang menyebutkan bahwa peradaban sejarah dan kebudayaan Kerajaan Kutai atau Kalimantan dipengaruhi dari luar, maka jelas ini rekayasa yang tidak memiliki dasar dan sumbernya. Karena mustahil peradaban dari luar Kalimantan di Nusantara yang kedudukannya lebih muda mempengaruhi peradaban Kalimantan yang lebih tua. Siapa yang duluan lahir? Bukankah demikian?

Senin, 19 Agustus 2019

Sejarah Terbentuknya Pemerintahan Daerah


Diary kedua,
19 Agustus 2019,
21:00 malam,
Hari ini merupakan hari bersejarah bagi Pemerintah Daerah. 74 tahun yang lalu, tanggal 19 Agustus 1945, mulai terbentuknya Pemerintah Daerah. Saat itu, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) membentuk Pemerintahan Daerah dengan membagi Indonesia menjadi 8 provinsi yang dipimpin oleh seorang Gubernur, yaitu :
1.        Sumatra dengan Teuku Mohammad Hassan sebagai gubernurnya.
2.        Jawa Barat dengan Sutarjo Kartohadikusumo sebagai gubernurnya.
3.        Jawa Tengah dengan R. Panji Suroso sebagai gubernurnya.
4.        Jawa Timur dengan R.A Suryo sebagai gubernurnya.
5.        Sunda Kecil dengan Mr. I Gusti Ketut Puja Suroso sebagai gubernurnya.
6.        Maluku dengan Mr. J. Latuharhary sebagai gubernurnya.
7.        Sulawesi dengan Dr.G.S.S.J. Ratulangi  sebagai gubernurnya.
8.        Kalimantan dengan Ir. Pangeran Mohammad Nor sebagai gubernurnya.

Sebelumnya tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, kemudian tanggal 18 Agustus 1945 menunjuk Presiden dan Wakil Presiden yaitu Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, maka pada hari ini, tanggal 19 Agustus, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mulai menyusun alat kelenggkapan negara, diantaranya membentuk Pemerintahan Daerah.
Pada hari ini juga, ikrar masing-masing daerah yaitu dari Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan untuk menghapus sistem Kerajaan dengan bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat penuh. Tidak ada lagi kerajaan, apa lagi negara didalam negara, yang ada adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun kemudian aku bertanya-tanya setelah aku membaca beberapa buku tentang sejarah, karena terdapat tulisan yang menyampaikan adanya penunjukan raja oleh Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagiku ini sungguh aneh. Apalagi penunjukkan raja terakhir tersebut menjadi dasar untuk mengangkat raja yang akan dimunculkan pada masa sekarang. Ini sangat aneh.
Di Kalimantan Barat, ketika fasisme Jepang, hampir merata semua raja dan keturunannya di bawa ke Mandor dan di penggal Jepang. Sehingga tidak ada lagi trah kerajaan pada masa itu. Dan kejadian tersebut berlangsung hingga terjadinya revolusi rakyat untuk memerdekakan diri, yang berujung pada di Proklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Hingga kemudian pada tanggal 19 Agustus 1945, sepakat semua daerah menghapus sistem kerajaan dan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka lahirlah Pemerintahan Daerah yang dipimpin oleh seorang Gubernur.
Jika kemudian ada yang menyatakan bahwa terjadi penunjukkan raja dari Belanda setelah Indonesia Merdeka, bukankah sangat aneh? Pada masa itu rakyat Indonesia berjuang mengusir Jepang dari Kalimantan Barat, setelah itu berjuang lagi agar Belanda tidak masuk dan menguasai Kalimantan Barat lagi, tahu-tahu ada yang menyatakan telah ditunjuk Belanda menjadi raja. Sungguh ini melukai perjuangan dan pengorbanan rakyat yang telah merelakan darah dan nyawanya membela dan mempertahankan kemerdekaan. Apalagi pada masa itu perjuangan sangat berat karena ada pihak-pihak yang akan membawa kembali Belanda bercokol di bumi Kalimantan Barat ini. Jadi ketika terjadi perjuangan rakyat merebut kemerdekaan, kemana kah mereka ini? Ikut berjuangkah atau bagaimana?
Dan sungguh anehnya, raja terakhir yang diangkat Belanda setelah Indonesia Merdeka inilah yang kemudian menjadi dasar penunjukkan raja pada masa sekarang. Semestinya dasar utama yang dipergunakan adalah silsilah raja yang terakhir sebelum Indonesia Merdeka, yaitu silsilah ketika terjadi pembantaian raja-raja oleh Jepang. Karena raja yang ditunjuk oleh Belanda setelah Indonesia Merdeka, sudah jelas pada masa itu tidak mendukung terwujudnya Kemerdekaan Indonesia. Mungkin juga tidak bersedia untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukankah demikian?
Semestinya ini menjadi kajian yang mendalam bagi Pemerintah Daerah. Karena pemunculan raja-raja ini juga menjadi bagian tanggung jawab Pemerintah Daerah, terutama dalam menentukan syah atau tidaknya silsilah raja-raja tersebut.

SUNGKUI THE TRADITIONAL CULINARY OF SANGGAU

Sungkui is a traditional Sanggau food made of rice wrapped in Keririt leaves so that it is oval and thin and elongated. Sungkui is a typical...