Jumat, 10 Januari 2020

DIARY 1997


DIARY 1997

Kamis, 8 Mei 1997.
Selepas makan malam aku, Pak Ngah Sanif, Yudi dan orangtuanya bersantai di depan rumah Yudi. Setelah cukup lama kami mengobrol santai, datang beberapa orang teman Yudi yang mengajaknya bersantai ke pantai Tanjung Batu. Yudi kemudian meminta izin Pak Ngah Sanif untuk membawaku ikut bersantai juga ke pantai Tanjung Batu. Pak Ngah Sanif mengizinkan namun ia ingin ikut serta untuk menjagaku. Kami pun selanjutnya berjalan ke pantai Tanjung Batu. Di pantai Tanjung Batu kami singgah ke sebuah pondok jualan milik temannya Pak Ngah Sanif.
Orang-orang di pantai Tanjung Batu hampir merata kenal dengan Pak Ngah Sanif. Karena jika ada kejadian aneh yang menimpa pengunjung Tanjung Batu, Pak Ngah Sanif lah yang selalu mereka panggil untuk menyelesaikan hal tersebut.
Di pondok jualan yang tak berdinding milik temannya Pak Ngah Sanif ini kami duduk santai. Yudi dan teman-temannya bersantai di tumpukan batu besar diluar pondok. Aku duduk didalam pondok menghadap ke pantai yang penuh dengan tumpukan batu besar, dan Pak Ngah Sanif duduk berjarak satu meja dibelakangku bersama temannya, si pemilik pondok jualan itu. Pak Ngah Sanif terlihat sangat asyik mengobrol dengan temannya itu.
Aku sangat menikmati suasana malam di tepi pantai saat itu. Suara ombak dan tiupan angin seperti alunan musik yang menghibur hatiku. Untuk beberapa saat aku hanyut dalam suasana. Hingga mataku tertuju pada sebuah batu besar didepan yang tidak jauh dari pondok tempatku duduk. Ku lihat Rina sedang berdiri diatas batu besar itu. Tubuhnya membelakangi laut dan memandangiku sambil tersenyum. Ku lihat ia melambai-lambaikan tangannya memanggilku.
Seakan jiwaku telah terkuasai oleh senyum dan lambaian tangannya, aku pun hendak berdiri untuk pergi menghampirinya. Namun ku rasakan tubuhku berat sekali seperti ada sesuatu yang menahannya sehingga aku tidak dapat berdiri. Aku terus mencoba untuk berdiri, namun tetap tidak bisa. Karena aku tidak juga menghampirinya sehingga ku lihat Rina bergerak perlahan ke arahku. Ku rasakan mataku saat itu tidak bisa berpaling dari tatapan matanya. Rina yang berambut sebahu dengan hiasan bendo merah dikepalanya, memakai kaos putih bergambar dan celana jeans biru ketat perlahan-lahan bergerak semakin mendekatiku.
Hingga semakin dekat kulihat Rina secara perlahan berubah. Kulitnya yang putih itu dipenuhi darah. Di leher sebelah kirinya terlihat luka yang menganga sangat besar. Terlihat darah bercucuran dari luka tersebut. Telinga kirinya tidak ada, dan terlihat luka besar menganga melewati mata kirinya hingga ke dahi. Baju dan celananya juga dipenuhi darah. Tangan kirinya terlihat hampir putus. Jari-jari tangan kanannya hanya tersisa jempol dan jari telunjuk yang tinggal setengah. Pada dada sebelah kanan terlihat luka yang juga menganga, begitu juga pada pinggang dan paha kanannya terdapat luka yang sama dengan darah yang bercucuran.
Seketika itu juga ku rasakan ubun-ubun dan tengkukku terasa dingin, dan semakin dingin ketika ku lihat Rina yang telah berubah sangat menakutkan bergerak perlahan semakin mendekatiku. Rasa dingin itu kemudian menjalar ke seluruh tubuhku hingga ke ujung kakiku. Jantungku seakan berhenti berdetak dan aku sulit bernafas karena seperti tertahan sesuatu. Tubuhku terasa sangat tegang dan kaku serta pandangan mataku tetap tertuju kepada tatapan matanya yang telah berubah sangat tajam dan mengerikan.
Aku benar-benar tidak bisa mengedipkan mataku apalagi memalingkannya. Ketika Rina yang terlihat sangat mengerikan itu hampir mendekatiku, tiba-tiba saja pandangan mataku tertutup sesuatu dan tengkukku terasa panas. Rupanya Pak Ngah Sanif yang mengetahui sedang terjadi susuatu padaku langsung bergerak cepat menutup mataku dengan tangannya dan tangannya yang satunya lagi menekan tengkukku.
Meski Pak Ngah Sanif asyik mengobrol dengan temannya itu, ia terus mengawasiku sehingga ia tahu bahwa sedang terjadi sesuatu padaku. Pak Ngah Sanif sambil menutup mataku dan menekan tengkukku, kemudian membacakan sesuatu ke ubun-ubunku sehingga ubun-ubunku terasa panas dari yang sebelumnya terasa sangat dingin.
Setelah selesai membacakan sesuatu ke ubun-ubunku, Pak Ngah Sanif menarik tangannya yang menutupi mataku ke arah bawah. Bersamaan dengan tarikan tangannya ke arah bawah, maka ku rasakan seperti ada hawa panas yang mengalir ke seluruh tubuhku hingga ke ujung kakiku sehingga hilanglah hawa dingin yang ku rasakan sebelumnya. Jatungku yang terasa terhenti langsung berdetak kencang, begitu juga nafasku langsung berderu dengan cepat.
Rina yang wujudnya sangat menakutkan tidak terlihat lagi dalam pandanganku. Pandangan mataku pun sudah dapat ku alihkan dan tubuhku dapat di gerakkan, meski jiwaku masih ku rasakan linglung dan jantungku masih terasa berdetak kencang. Nafasku pun masih turun naik dengan cepat.
Setelah yakin bahwa aku telah sadar, Pak Ngah Sanif langsung memegang tanganku dan segera membawaku pulang. Yudi dan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol di luar pondok dan melihat hal tersebut langsung menghentikan obrolan mereka. Mereka tanpa banyak berkata langsung mengikuti Pak Ngah Sanif yang berjalan cepat menarik tanganku untuk membawaku pulang. Saat itu aku masih merasakan linglung.
Kami tanpa sempat berpamitan dengan pemilik pondok jualan tempat kami bersantai langsung pergi begitu saja. Tapi pemilik pondok sangat mengerti situasi demikian karena para penjual di kawasan Tanjung Batu sangat mengenal Pak Ngah Sanif dan mengerti jika Pak Ngah Sanif berbuat demikian berarti ada sesuatu yang membahayakan para pengunjung kawasan wisata tersebut.
Pak Ngah Sanif dengan menarik tanganku, berjalan cepat membawaku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Pak Ngah Sanif langsung menyuruh ibunya Yudi mempersiapkan air satu ember. Tanpa membuka pakaianku Pak Ngah Sanif langsung memandikanku.
Ketika akan memandikanku, Pak Ngah Sanif membacakan sesuatu sambil memegang timba yang berisi air yang diambilnya dari ember tersebut. Selanjutnya ia menyiramkan air ke bagian tengah tubuhku sebanyak tiga kali, dan ke arah kanan dan kiri tubuhku masing-masing tiga kali. Selesai Pak Ngah Sanif memandikanku, linglung yang ku rasakan hilang. Jantung dan nafasku normal kembali. Aku merasa benar-benar telah sadar sepenuhnya.
Setelah Pak Ngah Sanif memandikanku, aku disuruhnya mengganti pakaianku yang basah. Aku menurutinya dan mengganti pakaianku. Setelah itu aku duduk di ruang tengah bersama Pak Ngah Sanif, Yudi dan orangtuanya. Pak Ngah Sanif kemudian bertanya kepadaku apa yang telah ku lihat tadi.
Aku pun menjelaskan bahwa tadi ku lihat Rina dalam wujud yang sangat mengerikan. Rina yang berambut sebahu dengan hiasan bendo merah dikepalanya, memakai kaos putih bergambar dan celana jeans biru ketat bergerak perlahan mendekatiku secara perlahan juga berubah wujudnya. Kulitnya yang putih dipenuhi darah.
Di leher sebelah kirinya terdapat luka yang menganga sangat besar dan darah bercucuran dari luka tersebut. Telinga kirinya tidak ada, dan terdapat luka besar menganga melewati mata kirinya hingga ke dahi. Baju dan celananya dipenuhi darah. Tangan kirinya hampir putus. Jari-jari tangan kanannya hanya tersisa jempol dan jari telunjuk yang tinggal setengah. Dada sebelah kanannya terdapat luka yang menganga, begitu juga pada pinggang dan paha kanannya terdapat luka yang sama dengan darah yang bercucuran.
Mendengar penjelasanku itu, Pak Ngah Sanif menganggukkan kepalanya. Yudi dan orangtuanya saling berpandangan. Selanjutnya Pak Ngah Sanif menjelaskan jika seperti itu penggambaran yang terlihat dari mataku maka wujud Rina itu seperti mayat yang ditemukan di kawasan Tanjung Batu. Beberapa bulan yang lalu warga menemukan mayat wanita di pondok tempat ku duduk pada malam itu.
Wanita tersebut menggunakan pakaian dan dipenuhi luka seperti yang telah ku jelaskan. Wanita itu memang dibunuh seseorang, namun tidak diketahui siapa pelakunya. Tentang identitas wanita itu masih simpang siur, ada yang mengatakan wanita itu berasal dari Pemangkat namun ada juga yang mengatakan berasal dari Singkawang. Hingga kini tidak tahu bagaimana kelanjutan penemuan mayat itu apakah pelaku pembunuhnya telah diketahui.
Sebelum kejadian yang telah menimpaku, memang telah ada beberapa orang baik para penjual ataupun pengunjung kawasan Tanjung Batu yang melihat penampakan wujud wanita yang sesuai penggambaranku itu.
Agar tidak semakin membahayakan jiwaku, Pak Ngah Sanif menyuruhku untuk besok pulang ke Pontianak, dan nanti jangan dulu datang ke kawasan Tanjung Batu hingga aku benar-benar telah lepas dari pengaruh Rina. Aku pun menuruti perkataan Pak Ngah Sanif itu. Namun untuk besok pulang, Pak Ngah Sanif dan Yudi akan mengantarku hingga melewati batas kota Singkawang karena Pak Ngah Sanif khawatir Rina akan mengikutiku. Aku pun kembali menuruti perkataan Pak Ngah Sanif itu.
Setelah berkata demikian, Pak Ngah Sanif menyuruhku tidur karena besok selepas Sholat Shubuh aku akan melakukan perjalanan jauh untuk kembali pulang ke Pontianak. Aku menuruti perkataan Pak Ngah Sanif dan bersama Yudi langsung masuk ke kamar untuk tidur. Rupanya Pak Ngah Sanif juga tidur di kamar Yudi, ia tidur di dekatku. Pak Ngah Sanif berkata bahwa ia tidur didekatku untuk menjagaku selama aku tidur agar tidak di ganggu Rina dan supaya tidurku bisa pulas sehingga besok aku bisa bangun dengan segar. Maka malam itu aku benar-benar merasakan tertidur pulas.

--- oOo ---

Sengsaramu tak pernah ku saksikan,
Kepedihanmu tak dapat kurasakan,
Siapa dirimu wahai gadis...?
Mengapa kisah hidupmu mesti berakhir tragis...?
Mengapa masamu terhenti dalam kepedihan...?
Apa yang sebenarnya terjadi padamu wahai gadis...?
Siapa yang membawamu dalam kemelut tragedi ini...?
Aku hanya dapat mengenalmu,
Dalam duniaku yang senyap ini...
Selamat jalan wahai gadis...
Engkau abadi dalam tragedi ini...

Pontianak, 4 Juli 1997
Jum’at 11:30 Malam

----- o0o -----

Minggu, 29 Desember 2019

UMAYRAH ITU JINGGA : Antara Zahara, Elisa & Kematian


UMAYRAH ITU JINGGA
ANTARA ZAHARA, ELISA & KEMATIAN

Dua hari berikutnya setelah pertemuanku dengan Zahara, aku menyempatkan diri untuk menjenguknya lagi di rumah sakit Soedarso. Saat itu sudah hampir Maghrib. Aku memasuki ruangan tempat Zahara di rawat. Dan terlihat Bibinya sedang menyuapinya makan saat itu. Melihat kedatanganku, Zahara sangat senang. Aku pun berdiri di ujung dekat tempat tidurnya sambil menunggunya selesai disuapkan makan oleh Bibinya.
Selesai makan, Zahara meminta Bibinya untuk mengambil sesuatu dari lemari kecil di dekat tempat tidurnya. Bibinya pun mengambilkan benda tersebut dan memberikan kepadanya. Setelah memberikan benda itu kepada Zahara, Bibinya pergi keluar untuk memberikan kesempatan kepada kami berbicara berdua.
Sambil memegang sesuatu yang terbungkus dalam sebuah plastik hitam, Zahara bertanya mengapa aku baru menjenguknya lagi. Ku katakan bahwa aku ada kesibukan dua hari ini. Zahara pun hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar jawabanku itu. Selanjutnya ia mengeluarkan benda yang terbungkus dalam plastik hitam itu. Rupanya benda itu adalah sebuah buku diari.
Sambil memegang buku diari itu, Zahara berkata bahwa ia meminta maaf karena tidak bisa mengembalikan buku diariku yang pernah dipinjamnya. Aku pun berkata bahwa aku sudah tidak ingat lagi dengan buku diariku itu, dan tidak apa-apa jika ia tidak bisa mengembalikan buku diariku itu.
Selanjutnya ia berkata lagi bahwa ia sangat senang membaca tulisanku saat itu meskipun hanya selembar saja, tetapi selalu dibacanya berulang kali. Setelah tidak bertemu lagi denganku, buku diariku itu di lanjutkannya dengan tulisannya hingga habis satu buku. Namun pada tahun 1993, rumahnya terbakar dan buku diariku itu juga ikut terbakar, padahal buku diariku itu sudah terisi semuanya dengan tulisan-tulisannya tentang berbagai kisah dan curahan hatinya pada masa-masa itu.
Tahun 1997, ketika ia mulai terkena penyakit Sifilis, ia teringat kepada buku diariku yang telah terbakar bersama rumahnya. Ia pun membeli buku diari baru untuk tempatnya menumpahkan perasaannya. Dan buku diari itu sedang dipegangnya saat itu. Namun buku diarinya yang baru itu belum penuh semuanya, karena ia menulisnya ketika sedang susah hati atau merasa kesepian saja. Ia pun memintaku untuk menerima buku diarinya itu sebagai ganti buku diariku yang pernah dipinjamnya namun ikut terbakar bersama rumahnya.
Zahara kemudian memberikan buku diari itu yang kulitnya berwarna kuning gelap kepadaku. Aku pun menerimanya. Sambil memberikannya kepadaku, Zahara berkata agar aku mau melanjutkan menulis buku diari itu hingga penuh. Aku pun berkata bahwa aku akan melanjutkan menulisnya hingga penuh. Selanjutnya kami berbincang-bincang tentang kesembuhan penyakit yang telah lama dideritanya.
Setelah cukup lama kami berbincang-bincang, aku pun berkata bahwa aku akan pulang. Zahara mengiyakan, namun kembali ia meminta dengan nada memaksa agar aku dapat datang lagi menjenguknya.
Aku pun berkata bahwa aku akan mengusahakan untuk menjenguknya lagi. Rupanya jawabanku itu terlihat belum memuaskannya, ia mengulang permintaannya agar aku dapat menjenguknya lagi. Kembali ku katakan bahwa aku akan menjenguknya lagi. Namun kembali Zahara terlihat seperti tidak yakin jika aku akan datang lagi menjenguknya. Setelah berkali-kali ku katakan bahwa aku akan datang menjenguknya lagi barulah Zahara terlihat senang.
Selanjutnya aku berpamitan akan pulang. Namun ketika aku berpamitan, Zahara memintaku untuk mengucapkan kata-kata “Ular melingkar-lingkar dipagar rumah Pak Umar”, Zahara mengatakan bahwa ia rindu mendengar aku mengucapkan kata-kata itu, yang dulunya selalu menjadi bahan untuk menertawakanku.
Aku sambil tersenyum mengatakan bahwa enggan untuk mengucapkannya. Namun Zahara memaksa sambil berkata bahwa ia sangat ingin mendengar aku mengucapkan kata-kata itu. Zahara juga berkata bahwa logat “R” berkaratku dalam mengucapkan kata-kata itu sangat membahagiakan hatinya, dan sebagai penghibur baginya yang sedang sakit itu.
Mendengar perkataan Zahara itu, aku pun mengabulkan permintaannya. Aku langsung mengucapkan kata-kata “Ular melingkar-lingkar dipagar rumah Pak Umar”. Setelah aku mengucapkan kata-kata itu, Zahara langsung tertawa. Selama aku bertemunya di rumah sakit, baru kali itu aku melihatnya tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia. Hatiku pun ikut senang melihatnya.
Kemudian kembali Zahara meminta aku untuk mengulanginya lagi menyebut kata-kata itu. Aku pun kembali mengulanginya menyebut kata-kata itu lagi, karena hatiku senang melihatnya dapat tertawa lepas dan dapat melupakan sakitnya itu walau hanya sesaat. Setelah ku ucapkan kata-kata itu lagi, kembali Zahara tertawa, ia sangat bahagia sekali saat itu. Seakan-akan ia dapat melupakan sakit yang dideritanya walau hanya sesaat. Dan aku seperti melihat Zahara yang dulu yang sangat cantik dimataku.
Setelah puas membuat Zahara tertawa, aku pun berpamitan untuk pulang karena telah lewat waktu membesuk. Kembali Zahara berpesan agar aku datang lagi menjenguknya. Aku mengiyakan pesannya itu.
Selanjutnya aku keluar dari ruangan tempatnya di rawat sambil membawa buku diari milik Zahara yang diberikannya kepadaku, dan diluar aku juga berpamitan dengan Bibinya. Setelah itu aku berjalan keluar dari rumah sakit Soedarso untuk pulang ke rumahku.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan membuka buku diari milik Zahara. Pada balik kulit buku terdapat nama Elisa Kharismawati. Rupanya nama sebenarnya Zahara adalah Elisa Kharismawati. Zahara itu ternyata hanya nama panggilannya saja ketika dulu dia aktif di Remaja Masjil Al-Falah.
Aku kemudian membuka lagi lembaran buku diari Zahara itu. Pada lembar berikutnya terdapat tulisannya yang meyebutkan bahwa buku diari itu sebagai pengganti buku diari milikku si “R” berkarat yang pernah dipinjamnya dahulu tetapi telah terbakar ketika rumahnya terbakar tahun 1993. Ia juga menulis sangat rindu mendengar logat “R” berkaratku. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri membaca tulisannya itu.
Berikutnya tulisan-tulisannya tentang keluh kesah tentang penyakitnya. Dan pada tulisan terakhir ia menulis “Surga atau Neraka ada pada pasanganmu. Jika ingin masuk surga, carilah pasangan yang Sholeh. Jika ingin masuk neraka, carilah pasangan yang bejat. Dan aku telah salah memilih pasangan. Aku telah salah mencintai orang, yang ternyata telah membawaku ke neraka. Dan neraka itu sudah ku rasakan di dunia ini”.
Aku terpaku membaca tulisannya yang terakhir itu. Untuk beberapa saat aku merenungi kata-kata tersebut. Setelah itu aku mengulanginya membaca dari lembar pertama lagi. Buku diari milik Zahara itu belum sampai setengah buku terisi. Dan pada malam itu aku membacanya berulang kali hingga aku tertidur.
Hari-hari berikutnya aku berencana akan menjenguk Zahara lagi, tapi selalu saja ada halangan sehingga rencanaku itu selalu gagal. Dan lebih dari 2 minggu aku belum bisa menjenguk Zahara di rumah sakit. Barulah pada hari Selasa 11 Mei 1999 aku sempat singgah ke rumah sakit untuk menjenguk Zahara, itu pun waktunya sudah hampir jam 7 malam.
Aku pun bergegas memasuki ruangan tempat Zahara di rawat. Tapi ketika aku telah masuk didalam, aku bingung karena tempat Zahara dirawat telah berganti dengan orang lain.
Aku bertanya pada orang yang ada di tempat itu kemana pasien yang sebelumnya di rawat di tempat itu. Namun orang yang ada di tempat itu tidak tahu kemana pasien sebelumnya apakah dipindahkan ke tempat lain atau telah pulang.
Mendengar jawaban dari orang itu, hatiku antara bimbang dan senang. Bimbang karena aku belum tahu jika Zahara masih dirawat, kemana ia dipindahkan. Hatiku senang, jika ternyata Zahara telah pulang berarti ia telah sembuh dari penyakitnya. Namun kemudian ada seorang keluarga pasien yang tempat tidurnya beberapa tempat dari tempat Zahara dirawat menyampaikan bahwa pasien yang di rawat sebelumnya telah meninggal dunia kurang lebih dua minggu yang lalu.
Aku tersentak mendengar penyampaian keluarga pasien itu. Pikiranku langsung kalut dan tidak percaya tentang itu. Melihat aku mulai kalut, keluarga pasien itu berusaha menenangkan, dan mengatakan barangkali ia salah, mungkin bukan pasien yang ku maksud itu yang telah meninggal dunia. Ia pun menyuruhku menanyakan langsung kepada perawat penjaga agar aku mendapatkan penjelasan yang tepat tentang pasien yang ku maksud.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung menemui perawat penjaga di bagian tengah ruangan tersebut. Dengan pikiranku yang mulai kalut, aku pun bertanya tentang pasien yang bernama Zahara yang sebelumnya di rawat di ruangan itu.
Perawat yang menjaga mulai mencari nama pasien yang bernama Zahara dari buku data pasien yang pernah dan sedang di rawat di ruangan itu. Rupanya tidak ada yang namanya Zahara yang pernah dirawat. Aku pun semakin kalut bagaimana bisa Zahara yang lebih dua minggu yang lalu ku temui di rawat ruangan itu tidak ada namanya dalam buku data pasien.
Dengan situasiku yang semakin kalut, aku pun berusaha menjelaskan posisi tempat Zahara di rawat. Ternyata aku yang salah menyebutkan nama, karena yang ada itu adalah namanya Elisa Kharismawati bukan Zahara. Mendengar perkataan perawat penjaga, barulah aku teringat bahwa nama Zahara yang sebenarnya adalah Elisa Kharismawati. Aku pun kembali bertanya kepada perawat penjaga kemana pasien yang bernama Elisa Kharismawati itu, apakah di pindahkan ke ruangan lain atau telah pulang.
Perawat penjaga kemudian berkata bahwa pasien yang bernama Elisa Kharismawati telah meninggal dunia pada hari Sabtu 22 April 1999 jam 8 pagi. Pikiranku langsung kosong saat itu setelah mendengar perkataan perawat penjaga itu bahwa pasien yang bernama Elisa Kharismawati telah meninggal dunia. Aku sungguh tidak percaya itu akhirnya terjadi.
Kaki dan tubuhku pun terasa bergetar. Aku seperti tak dapat mengendalikan perasaanku. Aku benar-benar tidak menyangka Zahara telah meninggal dunia. Untuk beberapa saat aku hanya dapat terdiam. Perawat penjaga juga hanya bisa terdiam melihatku yang sangat syok mendengar penjelasannya itu.
Setelah beberapa saat aku terdiam, dengan berusaha mengendalikan perasaanku, aku pun kembali bertanya dibawa kemana pasien tersebut ketika meninggal dunia. Perawat penjaga kemudian berkata bahwa pasien tersebut dibawa oleh keluarganya, dan ia pun memberikan nama dan alamat keluarganya itu kepadaku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari ruangan dan menuju keluar rumah sakit Soedarso.
Dengan perasaan tidak karuan, langsung saja aku pergi ke alamat yang telah diberikan oleh perawat penjaga, yaitu di salah satu gang di jalan Putri Dara Hitam. Sesampainya di gang tersebut, ku cari rumah yang dimaksud. Rumah itu pun kudapatkan dan rupanya rumah itu sepi, tidak ada orang didalamnya. Aku pun kemudian bertanya ke tetangga disebelahnya kemana orang yang ada di rumah tersebut. Tetangga itu pun berkata bahwa orang yang tinggal di rumah itu sedang berkerja dan nanti sekitar jam 11 malam baru pulang.
Aku pun kembali bertanya dimana tempatnya berkerja. Tetangga itu menjawab bahwa ia berkerja di Jawi Ria di Sungai Jawi. Setelah mendapat jawaban tersebut, aku pun berterima kasih dan langsung menuju ke Jawi Ria.
Sesampainya di Jawi Ria, aku langsung bertanya kepada karyawan yang berkerja di tempat itu nama seseorang yang sedang ku cari. Karyawan di Jawi Ria itu segera memanggil orang yang ku maksud tersebut. Orang yang ku maksud itu pun keluar dan rupanya adalah Bibinya Zahara yang selama ia sakit menjaganya di rumah sakit.
Ketika melihatku, Bibinya Zahara yang telah mengenalku itu terlihat berusaha tersenyum, meskipun sangat jelas ia masih memendam kesedihan. Aku pun langsung berkata bahwa aku tadi ke rumah sakit untuk menjenguk Zahara dan ternyata Zahara telah meninggal dunia. Bibinya Zahara dengan nada yang berusaha menahan perasaan membenarkan perkataanku itu, bahwa Zahara telah meninggal dunia lebih dua minggu yang lalu.
Kembali aku bertanya dimana Zahara di makamkan. Bibinya Zahara menjawab bahwa Zahara di makamkan di pemakaman depan Asrama Hidayat, dan ia menjelaskan posisi makamnya di pemakaman itu.
Bibinya Zahara sepertinya melihat aku akan pergi ke makamnya Zahara malam itu juga, ia pun dengan perlahan berkata sebaiknya aku pergi besok saja karena sudah malam dan menunjukkan waktu hampir jam 9 malam, akan sulit bagiku mencari makamnya Zahara.
Kembali ia berkata sebaiknya aku pulang saja dahulu, besok baru pergi ke makamnya Zahara. Aku tidak dapat berkata apa-apa saat itu, dan hanya dapat terdiam. Pikiranku sangat kacau saat itu, dan wajahku terlihat sangat kalut.
Selanjutnya ia berkata lagi bahwa ia harus kembali berkerja dan memintaku untuk pulang dan menenangkan diri. Aku pun mengiyakan perkataan Bibinya Zahara itu. Aku segera pergi dari Jawi Ria. Namun aku tidak langsung pulang ke rumah. Dengan motorku, aku berputar-putar melewati jalan di wilayah pemakaman di depan Asrama Hidayat. Entah berapa kali aku hanya berputar-putar saja melewati jalan itu dengan pikiran dan perasaanku yang kalut. Hingga kemudian aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku berusaha menenangkan diri di dalam kamarku. Sambil memegang buku diari milik Zahara, aku hanya duduk bersandar di tempat tidur. Hatiku pun sudah tidak sabaran menunggu pagi untuk pergi ke makamnya Zahara. Malam itu aku tak dapat memejamkan mata apalagi untuk tidur. Pikiranku masih terbayang-bayang wajah Zahara dan kenangan saat pertemuan pertamaku dengan Zahara ketika di Masjid Al-Falah dahulu terus terbayang dalam ingatanku.
Rabu, 12 Mei 1999, selepas Sholat Shubuh aku telah bersiap-siap untuk pergi melihat makam Zahara. Aku menunggu hingga langit terlihat terang.
Sepanjang malam aku gelisah dan tidak bisa tidur. Hingga jam setengah lima pagi ku lihat langit telah terang. Aku pun bergegas pergi ke makam Zahara di depan Asrama Hidayat.
Sesampainya di wilayah pemakaman, langsung ku cari makamnya Zahara sesuai penjelasan Bibinya Zahara tadi malam. Makam yang masih baru itu pun dari jauh telah terlihat. Dengan perasaan yang berkecamuk, aku pun semakin berjalan mendekati makam itu dan terlihatlah tulisan pada nisan di makam itu “Elisa Kharismawati”. Aku langsung terpaku melihat nisan itu. Dan tanpa dapat sanggup ku bendung, air mataku pun tumpah. Aku benar-benar tidak menyangka ini terjadi.
Dengan terisak, aku memanjatkan do’a bagi arwah Zahara. Setelah berdo’a, cukup lama aku hanya dapat terdiam sambil tak berhenti terisak memandang makam dan nisannya Zahara.
Hingga kemudian aku memegang nisannya dan berkata bahwa aku sangat berterima kasih atas pemberian buku diarinya itu. Dan aku akan mengisi buku diarinya itu hingga penuh. Sungguh kehadirannya yang singkat itu telah ikut mewarnai jalan hidupku.
Selanjutnya aku pergi dari makamnya Zahara, dan meninggalkan wilayah pemakaman di depan Asrama Hidayat itu. Sepanjang jalan air mataku tak berhenti keluar. Wajah Zahara dengan jilbab merah mudanya yang rapi terus terbayang dalam pikiranku.
Selamat jalan wahai Umayrah, gadis manis berpipi kemerah-merahan. Dan selamat jalan Jingga. Ini akhir Diarimu, namun menjadi awal Diariku.

--- o0o ---

Mungkin maut ini telah memisahkan
Aku dan kamu
Barangkali Takdir telah menetapkan
Perpisahan aku dan kamu
Bisa jadi jalan hidup
Aku dan kamu tidak tergaris menyatu
Lalu untuk apa pertemuan itu...?
Untuk apa perkenalan itu...?
Hanya meninggalkan jejak-jejak luka
Yang semakin bernanah dalam jiwaku
Menciptakan lukisan kepedihan yang selalu ku lihat
Sepanjang waktu, sepanjang masa,
Pada kanvas ruang hidupku...

Hidup ini memang tidak adil,
Memisahkan kamu dengan ku
Setelah sandiwara manis yang telah kita ciptakan
Ketika peran romantis penuh cinta dan kasih sayang
Yang telah kita perankan...

Kehidupan ini menjadi durjana,
Ketika merenggut dirimu dari sanubari hidupku
Setelah kamu dibiarkannya hidup dan berkembang
Menghiasi hari-hari sepiku...
Syukur ini berubah Ingkar,
Setelah apa yang terjadi
Antara aku dan kamu
Yang terpisah oleh hidup dan kematian

Untuk Sebuah Nama
Yang tak mungkin ku jumpai lagi
pada kehidupan nyata ini...
Akan tetap ku tunggu kehadiranmu
Dalam khayalan tak bertepiku...
Dalam mimpi-mimpi panjangku...
Hanya untuk ku membisikkan
Sesuatu ke telingamu...
“Andai waktu ini dapat kembali”

Pontianak, 5 Juni 1999
Sabtu, 12:00 Malam

--- o0o ---

Sabtu, 21 Desember 2019

FOSIL MANUSIA PURBA TERTUA DI ASIA DITEMUKAN DI KALIMANTAN


TENGKORAK ATAU FOSIL MANUSIA PURBA TERTUA DI ASIA
DITEMUKAN DI KALIMANTAN

Beberapa Tulang atau Fosil Manusia Purba ditemukan di Taman Nasional Gua Niah Serawak, negara bagian Malaysia yang berada di pesisir utara pulau Kalimantan. Tulang manusia tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1958 oleh Tim Arkeologis yang dipimpin oleh Tom Harrison yang telah melakukan eksplorasi penggalian dalam Gua Niah sejak tahun 1954 dengan cakupan area beberapa Gua di Kompleks Gua Niah dan daerah sekitarnya.
Tulang manusia tersebut ditemukan pada kawasan yang disebut “West Mouth” dan merupakan temuan terbesar. Tulang manusia yang disebut “Tengkorak Dalam” berupa tengkorak atau tulang yang tak utuh dan tulang kaki. Setelah penemuan tersebut, eksplorasi dilanjutkan hingga tahun 1967, dan Tom Harrison menemukan total 270 rangkaian tulang manusia. Selain itu ditemukan juga banyak peti mati berbentuk kapal yang mengandungi tulang-tulang manusia dan manik-manik yang berselerak di lantai Gua tersebut yang dihiasi banyak lukisan figuratif pada dinding Gua.
Berdasarkan temuannya, disebutkan bahwa tengkorak manusia tersebut merupakan manusia purba tertua di Asia. Bahkan diuraikan lebih lanjut bahwa keberadaan manusia purba tersebut merupakan kelompok manusia purba yang menempati kawasan tersebut paling awal yang kemudian menciptakan migrasi ke sekitar Asia bahkan hingga tiba dan menempati New Guinea dan Australia.
Selain di Taman Nasional Gua Niah Serawak, Artefak Kerangka Manusia Purba juga ditemukan di Gua yang berada di wilayah Mentewe, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Wilayah Mentewe merupakan kawasan yang secara geografis berada di wilayah Pegunungan Meratus. Dalam Gua tersebut, Tim Arkeologis juga menemukan lukisan Figuratif pada dinding Gua. Kemudian ditemukan juga Fosil atau Kerangka Manusia Purba di Gua pada kawasan hutan Muara Uya, Tabalong, daerah pedalaman Kalimantan Selatan. Kerangka Manusia Purba tersebut memiliki ukuran sangat besar dan kekar.
Kemudian disebutkan juga bahwa kelompok manusia purba ini merupakan kelompok manusia yang mengkonsumsi makanan Dendeng atau sejenis daging Sapi atau Lembu yang diawetkan atau dikeringkan, karena didapati bentuk geraham belakang mereka yang sangat kuat sehingga mampu mengunyah makanan-makanan keras.
Mengkonsumsi sejenis makanan Dendeng merupakan sejenis tradisi kehidupan yang modern karena masyarakat yang telah menerapkan penggunaan Dendeng sebagai kebutuhan hidupnya berarti masyarakat tersebut mengenal ilmu pengetahuan dalam pengolahan makanan. Karena mengawetkan makanan diperlukan ramuan khusus yang tentunya terdapat Ilmu Pengetahuannya yang kemudian dicampurkan pada daging agar tidak membusuk. Setelah daging tersebut dicampur ramuan, selanjutnya di keringkan, apakah menggunakan sinar matahari ataupun menggunakan media panas lainnya. Masyarakat yang menguasai Ilmu Pengetahuan mengawetkan makanan ini disebutkan telah dapat mengatur kebutuhan pangannya.
Dalam beberapa teori disebutkan bahwa Ilmu Pengawetan makanan ini sebagai asal muasal pengetahuan dalam mengawetkan mayat atau jasad raja-raja Kerajaan Kuno seperti yang terdapat pada tradisi raja-raja Mesir. Artinya bahwa bermula dari tradisi masyarakat yang menguasai pengetahuan mengawetkan makanan ini lah yang kemudian ditiru untuk mengawetkan mayat atau jasad manusia yang telah meninggal dunia.
Berdasarkan temuan tengkorak manusia purba ini maka sebagai pembantah bahwa manusia yang menempati kawasan Indonesia khususnya di Kalimantan berasal dari daratan China sebagaimana yang telah disebutkan dalam beberapa teori Migrasi manusia di Asia Tenggara. Justru malah sebaliknya, bahwa manusia yang menempati kawasan daratan China dan sekitarnya serta di Asia berasal dari Kalimantan, yaitu manusia Purba Kalimantan yang bermigrasi ke kawasan daratan China, Asia dan sekitarnya.
Selanjutnya, berhubungan dengan tradisi manusia Purba Kalimantan yang mengkonsumsi makanan Dendeng yaitu sejenis daging Sapi atau Lembu yang diawetkan atau dikeringkan, maka terdapat hubungan dengan beberapa temuan Arkeologi lainnya tentang keberadaan hewan Sapi atau Lembu ini yaitu sebagai berikut:
1.        Temuan lukisan Figuratif berbentuk hewan Sapi atau Lembu di Gua batu kapur di Sangkulirang-Mangkalihat Provinsi Kalimantan Timur. Menurut para ahli bahwa lukisan figuratif dalam dinding Gua tersebut merupakan bentuk-bentuk cadas tertua dan terbaik di dunia. Lukisan-lukisan gua ini pertama kali ditemukan pada tahun 1994 oleh penjelajah Prancis Luc Hendi.
2.        Pada tulisan di Batu Pahat Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat yang menjelaskan tentang keberadaan hewan Sapi atau Lembu ini yaitu :
a)      Pada Tiang Dhug atau Chatra yang pertama tertulis dengan bunyi : “Whisak pavitramay atmavinay dharaḷaṁ kannukalikay arukkan penaktiyay savikkunnay”.
Maknanya adalah : “Pada masa purnama mengabdilah ke langit atas dengan memotong hewan ternak Lembu yang banyak agar suci ruh dan jiwa menjadi tenang”.
b)      Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kelima tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteatay jipikkukay whesak kannukalikay anum pennam ara jead tamasikkunnay rajyam santamakkukay”.
Maknanya adalah : “Agar hidup  damai maka pada purnama potonglah hewan ternak Lembu jantan betina satu pasang agar tentram negeri tempat tinggalmu”.
c)      Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketujuh tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteay jivikkukay whesak areagya mulatum sampan navumay ara kuṭumba bhavanattinay an ​​kannuk alikay ara jeati kannukalikay murikkukay”.
Maknanya adalah : “Agar hidup damai pada purnama potonglah hewan ternak Lembu jantan betina satu pasang agar sejahtera dan sehat semua keluarga di rumah”.
3.        Pada Prasasti Yupa Kutai Kalimantan Timur juga terdapat penjelasan tentang keberadaan hewan Sapi atau Lembu yaitu pada Prasasti Yupa D. 2b atau Prasasti Muarakaman II yang berbunyi : “Srimato nerpamukhyasya rajnah sri mulavarmmanah danam punyatame kesetre yad dattam vaprakesvare dvijatibhyo 'qnikalpebhyah vinsatir gosahasrikam tasya punyasya yupo 'yam kerto viprair ihaqataih”.
Maknanya adalah : “Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka, yang telah memberikan sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana, yang seperti api di tanah yang suci Waprakeswara, Sebagai tanda kebajikan Sang Raja, tugu peringatan ini dibuat oleh para Brahmana yang datang di tempat ini”.
Kemudian dalam Prasasti Yupa Kutai lainnya terdapat tiga kata yang juga memiliki makna yang mengarah pada jamuan atau penyediaan makanan sejenis daging Lembu atau Sapi yang diawetkan ataupun yang dikeringkan dengan telah dicampur berbagai ramuan yaitu diantaranya disebut Aikadasam dan Akasadipam, yang ditempatkan pada tempat yang tinggi sehingga tersentuh oleh Api Suci.

Selanjutnya, keberadaan hewan Sapi atau Lembu ini juga memiliki hubungan terhadap salah satu ritual kuno masyarakat Kalimantan yaitu Ritual Tiwah dalam agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan. Dalam Ritual Tiwah tersebut terdapat ritual pemotongan atau pengurbanan Sapi atau Lembu dengan keyakinan bahwa cucuran darah dari hewan ini akan mensucikan ruh. Kepala Sapi atau Lembu yang telah dikurbankan dipenggal dan dikumpulkan sebagai persembahan, dan daging Sapi atau Lembu tersebut kemudian dimasak untuk dikonsumsi bersama.

Sabtu, 14 Desember 2019

CERITENYE BOEDAK PONTIANAK


CERITENYE BOEDAK PONTIANAK

Buku “Ceritenye Boedak Pontianak” berisi kumpulan cerita-cerita lucu yang terdapat dalam tuturan lisan masyarakat. Cerita-cerita lucu ini sering di ceritakan ketika sedang berkumpul atau dalam waktu bersantai. Cerita-cerita lucu tersebut ditulis dalam bahasa Pontianak sebagai upaya untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa Pontianak yang memiliki keunikan dan keKhasan tersendiri dari bahasa-bahasa Melayu lainnya.
Cerita-cerita lucu yang terdapat dalam buku ini merupakan sebagian kecil dari cerita-cerita lucu yang banyak berkembang di lingkungan pergaulan masyarakat Pontianak. Cerita-cerita lucu tersebut selain sebagai cerita fiktif untuk hiburan, namun ada juga sebagai sindiran terhadap situasi Sosial dan Politik yang sedang terjadi.
Berikut ini salah satu cerita dalam buku ini :

BINI PEKAK

Suatu ari Wak Kadol merase susah hati melihat kondisi bininye yang maken ari maken kuat pekak telingenye. Hal itu membuat Wak Kadol haros berteriak-teriak kalau nak ngomong dengan bininye. Karena merase sangat sayang dengan bininye itu, Wak Kadol pun berikhtiar dengan membace rubrik kesehatan perihal pengobatan untok orang yang terkena penyaket pekak.
Dengan serius Wak Kadol membace petunjuk dalam rubrik itu yaitu untok mengetahui seberape burok kah pendengaran seseorang make mesti dicobe berbicare dengan orang itu sejaoh 6 meter. Kalau orang itu tadak gak mendengar ape yang diucapkan, make berdirilah lebeh dekat agek kemudian ucapkan agek perkatean yang tadi itu. Kalau maseh gak tadak mendengarnye make berdiri lebeh dekat agik sambel ucapkan perkatean yang same. Teros sampai lebeh dekat ke telinge orang itu agar bise tahu seberape burok penyaket pekaknye.
Setelah Wak Kadol faham dengan maksod dari rubrik itu, make die pun nak mencobekannye ke bininye untok tahu seberape burok penyaket pekak bininye itu. Maka Wak Kadol pun pegi ke dapok karena bininye agik masak saat itu.
Kemudian dalam jarak 6 meter, Wak Kadol mulai bekate sesuatu ke bininye dengan suare nyaring.
Wak Kadol          :     “Agik masak ape kaw tuh Nab?!!!”.
Bininye Wak Kadol yang agik masak itu tak menjawab sepatah kate pun ape yang ditanyakan Wak Kadol itu. Sedehlah hati Wak Kadol melihat keadaan itu. Dalam hatinye pun bekate...
Wak kadol           :     “.... yaa Allah... memang kenak pekak bini aku nih...”.
Selanjutnye, sesuai petunjuk rubrik itu, Wak Kadol pun berdiri lebeh dekat agik ke bininye sambel berkate dengan suare nyaring....
Wak Kadol          :     “Oooiii Zenab... agik masak ape kaw nih?!!!”.
Agik-agik Zenab, bini Wak Kadol tuh tadak menjawab sepatah kate pun. Maken sedeh hati Wak Kadol ngeliatnye. Kemudian Wak Kadol berdiri lebeh dekat agik sambel berkate dengan suare nyaring...
Wak Kadol          :     “Zenab...!!! kaw nih agik masak ape...?!!”.
Zenab pun tetap tak menjawab sepatah kate pun. Sambel mendekatkan badannye agik, Wak Kadol pun bediri lebeh dekat ke badan bininye itu sambel beleter...
Wak Kadol          :     “Yaa Allah Nab... Nab... maken parah jak pekak kaw nih...!!!”.
Selanjotnye Wak Kadol pun beteriak senyaring-nyaringnye ke dekat telinge Zenab.
Wak Kadol          :     “Oiii Nab...!!! kaw nih agik masak ape...?!!!”.
Make saat itu pulak teliat Zenab menolehkan mukenye ke dekat muke Wak Kadol dengan becucoran aek mate sambel beteriak...
Zenab                   :     “Hikss... hikss... yaa Allah Bang... Bang... ngape Pekak Lantak Abang nih... dah empat kali aku nih bekate, AGIK MASAK SAYOK KELADI...!!!”.

Hmmm... rupenye bukan Zenab yang pekak, tapi Wak Kadol lah yang Pekak Lantak... Wak Kadol... Wak Kadol...

Jumat, 13 Desember 2019

KALIMANTAN MERUPAKAN SALAH SATU PERADABAN TERTUA DI DUNIA



KALIMANTAN MERUPAKAN SALAH SATU
PERADABAN TERTUA DI DUNIA

Berdasarkan temuan berbagai lukisan figuratif yang ditemukan di Gua batu kapur di Sangkulirang-Mangkalihat Provinsi Kalimantan Timur, maka para Ahli menyimpulkan bahwa Kalimantan merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Adapun lukisan figuratif tersebut merupakan bentuk-bentuk gambar purba, seperti stensil tangan manusia, hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan. Menurut para ahli bahwa bentuk-bentuk lukisan tersebut merupakan bentuk gambar cadas tertua dan terbaik di dunia. Lukisan-lukisan gua ini pertama kali ditemukan pada tahun 1994 oleh penjelajah Prancis Luc Hendi.
Pada salah satu bentuk lukisan figuratif tersebut terdapat bentuk lukisan seekor hewan Lembu atau Sapi. Hal ini seperti memiliki hubungan dengan beberapa temuan benda purbakala lainnya yang menjelaskan tentang keberadaan bentuk hewan Lembu atau Sapi ini yaitu sebagai berikut :
1.        Pada tulisan di Batu Pahat Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat yang menjelaskan tentang keberadaan hewan Lembu atau Sapi ini yaitu :
a)      Pada Tiang Dhug atau Chatra yang pertama tertulis dengan bunyi : “Whisak pavitramay atmavinay dharaḷaṁ kannukalikay arukkan penaktiyay savikkunnay”.
Maknanya adalah : “Pada masa purnama mengabdilah ke langit atas dengan memotong hewan ternak Lembu yang banyak agar suci ruh dan jiwa menjadi tenang”.
b)      Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kelima tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteatay jipikkukay whesak kannukalikay anum pennam ara jead tamasikkunnay rajyam santamakkukay”.
Maknanya adalah : “Agar hidup  damai maka pada purnama potonglah hewan ternak Lembu jantan betina satu pasang agar tentram negeri tempat tinggalmu”.
c)      Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketujuh tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteay jivikkukay whesak areagya mulatum sampan navumay ara kuṭumba bhavanattinay an ​​kannuk alikay ara jeati kannukalikay murikkukay”.
Maknanya adalah : “Agar hidup damai pada purnama potonglah hewan ternak Lembu jantan betina satu pasang agar sejahtera dan sehat semua keluarga di rumah”.
2.        Pada Prasasti Yupa Kutai Kalimantan Timur juga terdapat penjelasan tentang keberadaan hewan Lembu atau Sapi yaitu pada Prasasti Yupa D. 2b atau Prasasti Muarakaman II yang berbunyi : “Srimato nerpamukhyasya rajnah sri mulavarmmanah danam punyatame kesetre yad dattam vaprakesvare dvijatibhyo 'qnikalpebhyah vinsatir gosahasrikam tasya punyasya yupo 'yam kerto viprair ihaqataih”.
Maknanya adalah : “Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka, yang telah memberikan sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana, yang seperti api di tanah yang suci Waprakeswara, Sebagai tanda kebajikan Sang Raja, tugu peringatan ini dibuat oleh para Brahmana yang datang di tempat ini”.

Berdasarkan temuan lukisan figuratif di Gua batu kapur di Sangkulirang-Mangkalihat Provinsi Kalimantan Timur, tulisan pada Batu Pahat di Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat dan tulisan pada Prasasti Yupa Kutai Kalimantan Timur mengindikasikan bahwa keberadaan bentuk hewan Lembu atau Sapi ini memiliki makna yang penting dalam peradaban Kalimantan pada masa dahulu.
Sehubungan dengan keberadaan hewan Lembu atau Sapi ini, dalam kebudayaan masyarakat Kalimantan terdapat Ritual yang melibatkan hewan Lembu atau Sapi ini yaitu Ritual pemotongan atau berkurban Lembu atau Sapi yang dilaksanakan dalam Ritual agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan. Ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi dilaksanakan dalam ritual Tiwah.
Ritual Tiwah adalah salah satu ritual kuno masyarakat Kalimantan. Sebelum dipotong atau dikurbankan, Lembu atau Sapi ditempatkan pada Sangkai Raya yaitu tempat anjung-anjung dan persembahan serta Sapundu yaitu patung berbentuk manusia. Sapundu berfungsi sebagai tempat mengikat Lembu atau Sapi yang nantinya akan dikurbankan.
Sebelum pelaksanaan pengurbanan Lembu atau Sapi, masyarakat pelaksana ritual melakukan ritual tarian Manganjan sambil mengelilingi Sangkai Raya. Selanjutnya dilaksanakan pengurbanan Lembu atau Sapi dengan keyakinan bahwa cucuran darah dari hewan ini akan mensucikan ruh. Kepala Lembu atau Sapi yang telah dikurbankan dipenggal dan dikumpulkan sebagai persembahan, dan daging Lembu atau Sapi tersebut kemudian dimasak untuk dikonsumsi bersama. Artinya bahwa pemotongan hewan Lembu atau Sapi dalam Ritual Tiwah ini merupakan Ritual yang telah ada sejak masa dahulu, sehingga keberadaan Agama Kaharingan sebagai agama yang memiliki Ritual Tiwah ini terindikasi sebagai salah satu Agama Tertua di dunia.

SUNGKUI THE TRADITIONAL CULINARY OF SANGGAU

Sungkui is a traditional Sanggau food made of rice wrapped in Keririt leaves so that it is oval and thin and elongated. Sungkui is a typical...