Rabu, 25 Maret 2020
Jumat, 31 Januari 2020
NUJUM MELAYU
--- NUJUM MELAYU ---
METODE PENGOBATAN UNTUK PASIEN LAKI-LAKI
Ilmu Falak Melayu adalah Ilmu
Pengetahuan Kuno yang merupakan warisan terbesar dari bangsa Melayu yang kini
sudah sulit ditemukan. Sedangkan Ilmu Falak Melayu merupakan salah satu
peninggalan berharga tentang kejayaan bangsa Melayu pada masa dahulu. Karena
pada masa dahulu, Ilmu Falak Melayu banyak memberikan kontribusi pada Ilmu
Pengetahuan terutama pada Ilmu Perbintangan atau Astronomy. Dari Ilmu Falak
Melayu ini, Bangsa Melayu banyak mengetahui pengetahuan tentang Ilmu Alam,
Cuaca, Perbintangan dan sebagainya yang berhubungan dengan Alam.
Selain itu Ilmu Falak Melayu juga
dipergunakan untuk Metode Pengobatan yaitu melalui Metode Penghitungan nama
orang yang sakit. Dalam Metode Penghitungan nama ini dibagi menjadi dua yaitu
Metode Penghitungan untuk Pasien Laki-Laki dan untuk Pasien Wanita.
Dalam Metode Pengobatan Melalui
Penghitungan Nama yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :
1.
Daftar Hisab Abjadi atau Daftar Penghitungan
Huruf Hijaiyah.
2.
Mengetahui Daftar Hitungan Hari.
3.
Nama-nama Pengobatan Dalam Ilmu Falak Melayu.
Dalam Ilmu Falak Melayu terdapat 12 nama Pengobatan, yaitu :
1)
Hamal
2)
Tsaur
3)
Jauza’
4)
Sarathan
5)
Asad
6)
Sunbullah
7)
Mizan
8)
Aqrab
9)
Qaus Warrami
10)
Jadi
11)
Dalu
12)
Hout
4.
Mengetahui nama si pasien dan Ibunya, kemudian
dihitung kedua nama tersebut.
Adapun Metode Pengobatan melalui
Ilmu Falak Melayu, yang berikut ini adalah contohnya untuk Pasien laki-laki
yaitu sebagai berikut:
Seorang Pasien bernama Ismail dan nama Ibunya Hafsah. Maka
di jumlahkan nama Ismail adalah 211 dan nama Ibunya 578. Kemudian nama Ismail
dan nama Ibunya ditambahkan sehingga hasilnya adalah 789. Kemudian ditambah
dengan hari permulaan sakit atau hari ketika bertanya tentang penyakit,
misalnya hari Kamis jumlahnya 5. Selanjutnya ditambah dengan tanggal Hijriah
pada hari permulaan sakit atau ketika bertanya, misalnya tanggal 12. Sehingga hasil
totalnya adalah 806. Selanjutnya hasil total 806 dikurangi dengan 12 hingga
hasilnya didapatkan antara 1 – 12, maka hasilnya adalah 2. Maka penyakitnya ada
pada bagian Tsaur.Rabu, 29 Januari 2020
TOLONG CUBIT AKU
--- TOLONG
CUBIT AKU ---
Ini kisahku,
Kisah tentang wanita yang hadir ketika kuliahku akan
terhenti,
Wanita yang telah menyelamatkan masa depanku,
Liliput...
Aku memanggilnya...
Wanita berambut pendek berkacamata,
Yang selalu datang ke Kampus dengan tas ranselnya,
Ini kisahku,
Kisah tentang kamu...
Sabtu, 11 Januari 2020
EVALUASI PROYEK UNTUK PEMERINTAHAN, PERBANKAN & SWASTA
EVALUASI PROYEK UNTUK PEMERINTAHAN, PERBANKAN & SWASTA : Teori
& Aplikasi
Banyak keputusan yang dibuat
hanya atas dasar intuisi, bila permasalahannya masih sederhana, tetapi bila
sudah cukup komplek maka tidak mungkin lagi dapat dilakukan dengan intuisi
karena resiko yang timbul akibat keputusan yang salah akan mengganggu tingkat
efisiensi dan efektivitas investasi dalam suatu proyek. Untuk menghindari
kerugian yang cukup besar maka kegiatan pengambilan keputusan baik didunia
bisnis maupun pemerintahan wajib menggunakan konsep pengambilan keputusan
dengan metode kuantitatif melalui pendekatan proyek, dengan penyediaan data
yang akurat untuk menemukan permasalahan yang tepat, kemudian menganalisis
masalah dengan model yang tepat untuk menemukan alternatif-alternatif keputusan
yang tepat agar kita mampu memilih satu keputusan yaitu proyek yang terbaik.
Buku ini dirancang untuk siapa
saja yang ingin mengenal dan menggunakan metode kuantitatif dalam proses
pengambilan keputusan, terutama keputusan yang sering dibuat oleh orang-orang
yang melakukan kegiatan dalam suatu proyek, baik proyek swasta, pemerintah dan
dunia perbankan.
JUDUL :
EVALUASI PROYEK UNTUK PEMERINTAHAN, PERBANKAN & SWASTA : Teori &
Aplikasi
PENULIS :
Dr. Dinarjad Achmad, SE, MSc
PENERBIT :
Tom’S book Publishing
ISBN :
978-602-6569-03-5
UKURAN :
21 X 29 Cm
Dr. Dinarjad Achmad, SE, MSc, lahir di
Ketapang, tanggal 23 April 1954. Menamatkan pendidikan S1 di Jurusan Ilmu
Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Tanjungpura Pontianak tahun 1983,
menamatkan pendidikan S2 di Jurusan Manajemen Industri Institut Teknologi
Bandung (ITB) tahun 1991, dan menamatkan pendidikan S3 di Jurusan Ilmu Ekonomi
Universitas Airlangga tahun 2012. Sekarang bertugas sebagai Dosen pada Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak.
Pengalaman penelitian diantaranya adalah :
1.
Sebagai ketua pada penelitian Model Penataan Lokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk mengoptimalkan Peluang Pasar Dan Pengembangan Kawasan Di Daerah
Perbatasan Jagoi Babang-Serikin tahun 2014.
2.
Sebagai ketua pada penelitian Pengaruh Laju Pertumbuhan Ekonomi, Jumlah Tenaga kerja Terserap terhadap
Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Di Indonesia tahun 2013.
3.
Secara mandiri melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Ekspor dan Investasi
terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi,
Jumlah Tenaga Kerja Terserap dan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi di Indonesia tahun 2012.
Serta beberapa penelitian lainnya.
Beberapa karya tulis ilmiah yang telah
ditulis oleh penulis, antara lain :
1.
Potensi dan Tantangan Pengembangan Sektor Unggulan di Kalimantan Barat tahun 2016 pada JEBIK,
volume 5 tanggal 2 agustus 2016, ISSN : 2087-9954.
2.
Globalization in the Perspective of islam and Economic Experts tahun 2016 pada ELSEVIER, volume 219 tanggal 31 may 2016, ISSN : 1877-0428.
3.
The Performance of micro, small and Medium Eterprises (MSMEs) : Endigeneus Ethnic versus-non
Endigeneus Ethnic tahun 2016 pada ELSEVIER, volume 219 tanggal 31 may 2016, ISSN : 1877-0428.
4.
The Rule of Regional Superior Sectors in Creating GDP
Value Added, Employment
Opportunity, Regional
Productivity and Human Development Index tahun 2015 pada ELSEVIER, volume 211 tanggal 9 Desember 2015, ISSN : 1877-0428.
5.
Komparatif Ekonomi Sistem Dan Praktek Neo-Liberal Dalam Perekonomian
Indonesia tahun 2010 pada Jurnal
Ekonomi, Bisnis Dan
Kewirausahaan Vol 1 No.1 Tahun 2010, ISSN : 2087-9954.
6.
Hubungan Kausalitas Antara PDRB Perkapita Dengan Investasi Di Kalimantan
Barat Sebelum Dan Setelah Otonomi tahun 2007 pada Suara Almamater Vol. 22, No. 2 Tahun 2007, ISSN : 0215-868X.
7.
Buku Metode kuantitatif tahun 2005, belum diterbitkan.
8.
Manajemen Berbasis Sekolah tahun 2007 di BKD Sanggau.
9.
Manajemen Berbasis Sekolah tahun 2008 di DIKNAS
Bengkayang.
Untuk bisa berinteraksi dengan penulis, anda
bisa menghubungi melalui Email :
dinarjadachmad54@gmail.com
Jumat, 10 Januari 2020
EDELWEISS DI TENGAH BELUKAR
EDELWEISS DI TENGAH BELUKAR
Sabtu, 2 November 1996, aku mendapat jadwal bertugas
di Restoran Hotel pada sift sore yaitu dimulai dari jam 3 sore hingga jam 11
malam. Hingga jam 11 malam waktunya aku pulang. Setelah menyelesaikan
laporan keuanganku hari itu, aku pun keluar melalui pintu belakang hotel untuk
mengambil motor Suzuki Jet Cooled ku yang ku parkirkan di belakang hotel.
Tempat parkir ini merupakan tempat khusus bagi kendaraan karyawan hotel.
Setelah menghidupkan motorku itu, aku langsung melaju keluar dari belakang
hotel menuju ke gerbang depan hotel untuk menuju ke Jalan Gajah Mada.
Ketika akan melewati gerbang hotel, ku lihat Tante
Linda berdiri disitu sepertinya sedang menunggu seseorang. Rupanya Tante Linda
melihatku dan langsung memanggilku untuk menghentikan laju motorku itu. Aku pun
segera berhenti.
Tante Linda kemudian menghampiriku dan bertanya aku
akan kemana. Maka ku jawab bahwa aku mau pulang. Tante Linda kemudian bertanya
lagi ke arah mana jalanku pulang. Ku jawab aku pulang ke arah Jeruju. Selanjutnya Tante Linda berkata bahwa ia ingin menumpang untuk pulang ke arah Jalan Merdeka, yang tentunya aku akan melewati
jalan itu menuju ke Jeruju. Tanpa menunggu persetujuanku, Tante Linda langsung naik ke
belakang motorku. Ia pun menyuruhku untuk menjalankan motorku.
Dengan perasaan gerogi yang luar biasa aku segera
menjalankan motorku. Tubuhku tegang sekali ketika menggonceng Tante Linda. Dan
Tante Linda sepertinya tahu bahwa aku sangat gerogi saat itu, tapi ia tidak
menghiraukannya. Ia dengan santainya sambil berkata bahwa orang yang biasa
menjemputnya barangkali tidak bisa datang sehingga belum juga muncul
menjemputnya hingga jam 11 malam itu. Ia biasanya pergi dan pulang bersama
Tante Yanti, tapi hari itu Tante Yanti sedang datang bulan sehingga tidak bisa
melayani pesanan dari tamu hotel, dan hanya berada di rumah kontrakan mereka
saja di kawasan Jalan Merdeka, sehingga hanya Tante Linda sendiri saja yang
datang ke hotel sejak jam 8 malam tadi karena ada tamu hotel yang memesan
layanannya. Tante Linda hanya melayani tamu hotel satu rate saja malam itu.
Setelah selesai melayani tamu, ia memutuskan untuk pulang. Aku hanya diam saja
mendengar penjelasan Tante Linda itu.
Selanjutnya, motorku pun melaju melewati Jalan Gajah
Mada. Ketika mendekati simpang Jalan Gajah Mada dan Diponegoro, dan akan
memasuki Jalan Pattimura, Tante Linda bertanya apakah aku sudah makan atau
belum. Belum sempat ku jawab, Tante Linda langsung mengajakku singgah ke Rumah
Makan Ayam Panas 29 yang berada sederetan tidak jauh dengan Kaisar Swalayan di
Jalan Pattimura. Rumah Makan Ayam Panas 29 ini buka 24 jam. Tante Linda berkata
ia sangat lapar saat itu. Motorku pun berbelok menuju Rumah Makan tersebut.
Setelah ku parkirkan motorku, kami pun turun dan memasuki Rumah Makan itu.
Tante Linda kemudian memesan makanan, selanjutnya ia mengajakku duduk pada meja
di dekat dinding. Aku pun mengikutinya.
Setelah duduk ia langsung menyalakan rokoknya sambil
menawarkannya juga kepadaku, tapi ku katakan bahwa aku tidak merokok. Tante
Linda hanya tersenyum saja saat itu. Sambil menunggu pesanan makanan kami
diantar oleh penjaga Rumah makan ia mengajakku mengobrol santai. Aku yang masih
gerogi itu hanya bisa menjadi pendengar yang baik saja mendengarkan obrolan
santainya. Hingga kemudian ku beranikan diri untuk bertanya tentang kelanjutan
cerita Tante Linda ketika pergi ke Bantul bersama Jamal.
Mendengar pertanyaanku itu, Tante Linda tertawa sambil
berkata bahwa rupanya aku masih mengingat ceritanya itu. Sambil tersenyum malu
aku mengiyakannya. Selanjutnya Tante Linda bertanya sampai dimana ceritanya
waktu itu. Aku pun menjelaskan secara ringkas hingga ketika Tante Linda
bersedia menemani Jamal untuk pergi ke rumah orangtua Jamal di Bantul.
----------
Belum sempat Tante Linda akan melanjutkan ceritanya,
makanan yang dipesannya datang, makanan itu pun diletakkan oleh si penjaga
rumah makan di meja tempat kami duduk. Tante Linda kemudian menyuruh untuk
makan terlebih dahulu, nanti selesai makan baru ia akan melanjutkan ceritanya.
Selesai makan Tante Linda melanjutkan ceritanya,
sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan terlihat ia berusaha untuk tegar,
Tante Linda mulai bercerita. Hari itu pergilah Tante Linda bersama Jamal ke
Bantul menggunakan mobil yang disewa Jamal. Sesampainya di Bantul, mereka
langsung menuju rumah Jamal. Jamal rupanya memegang kunci rumahnya, dan ketika
dibuka ternyata rumah itu tidak ada orang. Tante Linda bertanya dimana orangtua
Jamal yang sakit. Jamal menjawab bahwa orangtuanya sedang di rumah sakit
sehingga rumahnya tidak ada orang. Dan nanti mereka akan pergi ke rumah sakit
untuk bertemu orangtua Jamal.
Tante Linda yang tidak ada rasa curiga terhadap Jamal
percaya saja, ia kemudian duduk di ruang tamu. Sedangkan Jamal langsung masuk
ke dalam. Dan tak lama kemudian keluar membawa segelas air minum yang kemudian
diberikan kepada Tante Linda. Jamal menyuruh Tante Linda untuk meminumnya
dengan berkata bahwa tentunya Tante Linda haus setelah perjalanan jauh. Setelah
memberikan segelas air itu, Jamal duduk tidak jauh dari Tante Linda.
Tante Linda yang masih belum curiga itu langsung
meminum segelas air yang diberikan Jamal. Setelah minum, mereka
berbincang-bincang sesaat. Namun tak lama kemudian, Tante Linda merasakan
kepalanya pusing. Selanjutnya Tante Linda merasakan matanya mulai
berkunang-kunang dan kepalanya semakin pusing. Hingga kemudian ia merasakan
tubuhnya lemas sehingga ia kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi ruang tamu
itu. Rupanya Jamal telah memasukkan sesuatu ke dalam air minum yang di minum
oleh Tante Linda sehingga kepalanya menjadi pusing dan tubuhnya menjadi lemas.
Jamal yang melihat Tante Linda telah lemas itu
terlihat langsung menutup pintu dan menguncinya. Meski dalam kondisi telah
lemas, namun Tante Linda masih dapat melihat perbuatan Jamal selanjutnya. Jamal
terlihat mengangkat tubuhnya dan dibawa ke dalam sebuah kamar. Sesampainya di
dalam kamar, tubuh Tante Linda di baringkan Jamal pada tempat tidur dan Jamal
mulai melepas pakaian Tante Linda satu persatu. Selanjutnya Jamal melepas
pakaiannya sendiri. Tante Linda dalam kondisi telah lemas itu tak dapat berbuat
apa-apa. Ia kemudian menyaksikan Jamal mulai memperkosanya.
Tante Linda ingin menjerit tapi ia tak mampu. Hanya
air matanya saja meleleh dari sela-sela matanya melihat perbuatan biadab Jamal
terhadap dirinya. Untuk beberapa waktu Tante Linda yang sedang hamil muda itu
harus melewati siksaan perih karena Jamal sedang memperkosanya. Setelah
melampiaskan nafsu bejatnya, Jamal memakai kembali pakaiannya dan terlihat
keluar dari kamar. Tante Linda saat itu belum juga pulih, tubuhnya masih lemas
dan dibiarkan terbaring begitu saja tanpa pakaian sehelai pun oleh Jamal. Hati
Tante Linda menjerit, air matanya terus meleleh dari matanya.
Cukup lama Jamal keluar dari kamar membiarkan Tante
Linda yang terbaring lemas. Kemudian terlihat ia masuk lagi dengan membawa
beberapa orang yang rupanya itu teman-temannya. Ternyata ketika keluar dari
kamar tadi Jamal pergi menjemput teman-temannya. Dalam kondisi lemas, Tante
Linda mendengar cemoohan Jamal kepada Tante Linda dengan mengatakan kepada
teman-temannya itu bahwa ternyata Tante Linda sudah tidak perawan. Jamal juga berkata
bahwa Tante Linda adalah perempuan nakal sehingga sudah tidak perawan lagi. Dan
ia mempersilahkan teman-temannya itu untuk menikmati tubuh Tante Linda karena
pastinya sebagai perempuan nakal sudah terbiasa ia menjadi pelampiasan nafsu
laki-laki.
Teman-teman Jamal yang mendengar perkataannya itu
terlihat tertawa girang. Mereka selanjutnya satu persatu bergiliran memperkosa
Tante Linda yang telah tak berdaya itu. Maka bertambahlah siksaan yang
dirasakan oleh Tante Linda. Ia hanya bisa mengeluarkan air matanya saja melihat
teman-teman Jamal yang berjumlah enam orang itu bergiliran memperkosanya. Entah
berapa lama ia bertahan saat itu, hingga ia merasakan tidak sanggup lagi dan
akhirnya ia tak sadarkan diri.
----------
Tidak tahu berapa lama Tante Linda tidak sadarkan
diri. Ketika telah sadar, ia merasakan seluruh tubuhnya sakit sekali, meski ia
tidak merasakan lemas yang dirasakan sebelumnya. Tante Linda kemudian mencoba
untuk bangun dengan pandangan matanya yang berkunang-kunang. Ia merasakan
sangat nanar saat itu. Tubuhnya yang tanpa sehelai pakaian itu terlihat di
tumpahi cairan sperma di sana sini. Ketika bercerita, terlihat Tante Linda
berusaha untuk tegar sambil terus menerus menghisap rokoknya.
Dengan bersusah payah sambil menahan sakit di sekujur
tubuhnya yang tidak terkira, Tante Linda memakai pakaiannya yang tergeletak
begitu saja di lantai kamar. Ketika selesai memakai pakaiannya, Tante Linda
mendengar suara tertawa dari luar kamar. Rupanya Jamal dan teman-temannya
sedang bercanda kegirangan di luar kamar. Tante Linda merasakan ketakutan
sekali saat itu, pikirannya kosong, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ia merasakan sangat syok. Akibat perasaan takut yang sangat luar biasa, Tante
Linda jatuh terduduk dengan pikirannya yang kosong. Ia hanya bisa menangis saja
saat itu.
Rupanya dari luar kamar terdengar jika Tante Linda
telah sadar, Jamal pun terlihat memasuki kamar. Tante Linda melihat Jamal
seperti melihat iblis ia takut luar biasa, tapi tak mampu berkata. Ia hanya
terduduk ketakutan sambil terus menangis.
Melihat Tante Linda telah sadar, Jamal memanggil
teman-temannya untuk kembali masuk ke kamar. Selanjutnya Jamal mendekati Tante
Linda yang sedang ketakutan itu, dengan tanpa berdosa berkata bahwa Tante Linda
sudah tidak perawan, sehingga tidak perlu ia takut. Nikmati saja apa yang
terjadi. Mendengar perkataan biadab Jamal itu Tante Linda hanya bisa menangis.
Rupanya perlakuan biadab Jamal dan teman-temannya
belum selesai. Mereka kembali menarik tubuh Tante Linda ke tempat tidur. Selanjutnya
mereka melepaskan kembali pakaian Tante Linda dan kembali bergiliran memperkosa
Tante Linda yang sedang hamil muda itu. Tante Linda yang dalam kondisi
ketakutan dengan sekujur tubuhnya sakit tidak terkira benar-benar tidak
berdaya. Ia harus kembali merasakan siksaan Jamal dan keenam temannya
bergiliran memperkosanya. Tante Linda tidak pingsan saat itu, hingga perbuatan
biadab itu berakhir. Sungguh siksaan yang sangat perih yang sulit dilupakannya
seumur hidup.
Selepas Jamal dan keenam temannya melampiaskan nafsu
biadabnya, mereka kemudian keluar kamar. Tante Linda hanya dapat terbaring
lemas di tempat tidur dengan sekujur tubuhnya semakin sakit. Pikirannya hampa
dan pandangan matanya kosong. Air matanya pun seakan mengering dan tidak dapat
keluar lagi. Kebencian dan kejijikannya terhadap laki-laki mulai timbul saat
itu. Cukup lama ia hanya terbaring lemas di tempat tidur saat itu, sambil terus
menerus menyesali nasib.
----------
Sekian lama kemudian, terlihat Jamal memasuki kamar.
Jamal dengan sebutan biadab menyebut Tante Linda sebagai ‘Perek’ menyuruhnya
untuk bangun dan memakai pakaiannya karena mereka akan pulang ke Jogja. Tante
Linda dengan pandangan kosongnya bersusah payah untuk bangun. Dalam kondisi
sekujur tubuh yang sakit dengan perlahan-lahan Tante Linda memakai kembali
pakaiannya. Selanjutnya dalam kondisi linglung ia keluar dari kamar. Rupanya
keenam teman Jamal sudah tidak ada lagi di rumah itu. Tanpa sepatah kata pun
Tante Linda langsung keluar dari rumah dan memasuki mobil yang kemudian diikuti
Jamal memasuki mobil. Mereka pun kembali pulang ke Jogja.
Sepanjang perjalanan pulang Tante Linda membisu dengan
pandangannya yang kosong. Ia tidak mau melihat Jamal yang Durjana dan terlihat
sangat menjijikkan dimatanya. Dengan dipenuhi rasa amarah dan dendam, hatinya
sangat menjerit. Ketika sampai di tempat kostnya di Jogja, Tante Linda langsung
turun menuju kamar kostnya. Ia tidak berkata apa-apa kepada si Durjana Jamal,
bahkan Jamal pun sudah tidak mau dilihatnya lagi karena bagai iblis dalam pandangan
matanya. Tante Linda selanjutnya hanya mengurung diri dalam kamar kostnya. Dan
memendam kisah pilu dari perbuatan durjana yang telah dialaminya. Sejak itu ia
tidak mau lagi bertemu si Durjana Jamal karena sangat menjijikkan baginya.
----------
Setelah beberapa hari mengurung diri dalam kamar
kostnya, Tante Linda mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya telah berkurang,
ia kemudian berusaha menguatkan diri untuk bertahan dan pergi kuliah ke
kampusnya. Tapi perlakuan pedih harus ia alami ketika ke kampus. Rupanya Jamal
telah menyebarkan cerita kesana sini bahwa Tante Linda adalah ‘Perek’ dan sudah
tidak perawan. Sehingga beberapa mahasiswa dengan berani mengajaknya untuk
berhubungan intim. Bahkan yang lebih menyakitkan ada yang bertanya berapa tarifnya
satu malam. Ajakan yang menjijikkan itu tidak ditanggapinya. Ia terus bertahan
untuk tetap menyelesaikan kuliah meski saat itu kehamilannya makin bertambah
hari. Segala perkataan orang yang menyebutnya ‘Perek’ berusaha tidak
dihiraukannya.
Hingga ketika ia berkonsultasi tentang mata kuliahnya
kepada salah seorang dosennya, dan dosennya itu terang-terangan memintanya
untuk berhubungan intim jika ingin dilayani konsultasi mata kuliahnya itu
membuat semangatnya untuk menyelesaikan kuliah menjadi ambruk. Rupanya anggapan
kepada dirinya sebagai ‘Perek’ juga sampai di kalangan dosen-dosennya di
kampus. Permintaan menjijikkan dosennya itu tidak di tanggapinya, namun ia
kemudian dipersulit untuk berkonsultasi tentang mata kuliahnya. Ia pun semakin
jijik melihat laki-laki.
Situasinya yang dipersulit oleh dosennya itu lantaran
ia tidak menanggapi permintaan tidak senonoh dosennya itu membuatnya berpikir
lagi untuk tetap bertahan menyelesaikan kuliahnya. Ia akhirnya memutuskan untuk
memberanikan diri pulang ke Sumatera Barat dan menyampaikan kepada orangtuanya
tentang kehamilannya. Maka berhentilah Tante Linda dari kuliah yang telah
dijalaninya hingga menjelang akhir semester 7 saat itu. Ia pun pulang ke
Sumatera Barat.
----------
Ketika pulang ke Sumatera Barat, orangtuanya sangat
marah ketika mengetahui Tante Linda telah berhenti kuliah serta saat itu sedang
hamil dan tidak ada laki-laki yang dapat di tuntut pertanggung jawabannya.
Orangtua Tante Linda yang merupakan salah seorang terpandang di Sumatera Barat
sangat malu dengan kondisi Tante Linda. Tante Linda kemudian diusir dari rumah
karena dianggap membawa aib bagi orangtua dan keluarganya. Setelah diusir oleh
orangtuanya, Tante Linda tinggal di rumah salah seorang keluarganya. Tapi
rupanya orangtua Tante Linda mengetahui bahwa ia tinggal di rumah salah seorang
keluarganya. Orangtuanya itu kemudian menemui keluarganya itu dan melarang
untuk memberikan tempat tinggal bagi Tante Linda karena telah membawa aib bagi
keluarga besar mereka. Keluarganya itu tidak dapat berbuat apa-apa, dan
terpaksa meminta Tante Linda untuk pergi dari rumah mereka.
Dengan kepedihan hati, Tante Linda pergi dari rumah
keluarganya itu. Ia kemudian hidup terkatung-katung dengan membawa kehamilannya
yang semakin membesar. Ia berusaha berkerja apa saja hanya untuk menyambung
hidupnya saat itu. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Tante Yanti.
Tante Yanti adalah teman sekolah Tante Linda ketika di
SMP. Tante Yanti sangat perihatin melihat Tante Linda dengan perut membesar
berkerja serabutan untuk mencari nafkah. Ia pun membawa Tante Linda untuk
tinggal bersamanya. Saat itu Tante Yanti telah berkerja sebagai Wanita Tuna
Susila.
Bukan tanpa sebab Tante Yanti akhirnya berkerja
sebagai Wanita Tuna Susila, karena ia juga mengalami nasib yang sama menyakitkannya
dengan Tante Linda hanya situasinya saja yang berbeda. Tante Linda kemudian
menceritakan keseluruhan tentang kisah hidup Tante Yanti yang dua kali menikah,
dan kedua suaminya itu memiliki penyimpangan seksual. Kedua suaminya itu tidak
akan terangsang jika tidak melihat Tante Yanti di gauli orang. Itulah awal mula
Tante Yanti sangat membenci laki-laki. Ia kemudian lari dari suaminya dan
menjadi Lesbian. Meskipun sebagai Lesbian, Tante Yanti kemudian berkerja
sebagai Wanita Tuna Susila untuk mencari nafkah.
Selama tinggal bersama Tante Yanti, segala keperluan
hidup Tante Linda yang sedang hamil besar itu di tanggung oleh Tante Yanti. Ini
lah awal mula Tante Linda menjadi Lesbian. Kesamaan nasib yang mereka alami
menimbulkan kebencian mereka kepada laki-laki. Mereka pun saling jatuh cinta
dan menjalin asmara.
Sampailah waktunya Tante Linda melahirkan seorang anak
laki-laki. Namun beberapa hari setelah melahirkan, anaknya itu meninggal dunia.
Selanjutnya setelah pulih kesehatannya, Tante Linda mengikuti Tante Yanti
berkerja sebagai Wanita Tuna Susila. Hingga kemudian mereka mendapat tawaran
untuk berkerja di Kalimantan yaitu di Balikpapan dengan profesi yang sama yaitu
sebagai Wanita Tuna Susila. Lebih dua tahun mereka di Balikpapan. Hingga
kemudian pada tahun 1994 mereka mengikuti seseorang pergi ke Pontianak. Dan di
Pontianak lah kini mereka berkerja.
Setelah menyelesaikan ceritanya itu, Tante Linda
mengajakku pulang. Ia kemudian membayar makanan yang kami makan. Aku pun
berjalan menuju motorku dan menghidupkannya. Tante Linda kemudian naik
dibelakang motorku. Selanjutnya motorku melaju menuju Jalan Merdeka, dan
berbelok masuk pada sebuah gang tempat rumah kontrakan Tante Linda berada.
Motorku pun berhenti di depan rumah kontrakan tersebut.
Setelah Tante Linda turun dari motorku, ia sempat
menawarkan aku untuk singgah sebentar di rumah kontrakannya, tapi ku katakan
bahwa waktu telah lewat jam 2 subuh, dan aku harus tidur karena nanti jam 3
sore pada hari Minggu itu aku harus kembali masuk kerja. Tante Linda memahami
kondisiku itu. Ia pun mengucapkan terima kasih karena aku bersedia
mengantarkannya pulang dan menjadi teman sebagai tempatnya bercerita. Aku
dengan tersipu malu hanya menganggukkan kepalaku saja dan pamit untuk langsung
pulang. Selanjutnya aku menjalankan motorku dan melaju pulang ke rumahku di
Jeruju.
CERMIN JIWA OWIE POJOH : DALAM SEBUAH ANTOLOGI
CERMIN
JIWA OWIE POJOH : DALAM SEBUAH ANTOLOGI
Karya
YUSURI, No. ISBN : 978-602-6569-44-8
Buku
“Cermin Jiwa Owie Pojoh – Dalam Sebuah Antologi” berisi kumpulan puisi karya
Yusuri, S.Pd., seorang Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Sungai Kunyit,
Kabupaten Mempawah-Kalimantan Barat. Puisi-puisi tersebut ditulisnya dalam
kurun waktu tahun 2002 -2019.
Yusuri, S.Pd menamatkan pendidikannya di FKIP Bahasa
dan Sastra Indonesia Universitas Tanjung Pura Pontianak tahun 2000. Ia pernah
menjadi Mentor pembacaan Puisi wilayah Jawa Barat.
DIARY 1997
DIARY 1997
Kamis, 8 Mei 1997.
Selepas makan malam aku, Pak Ngah Sanif, Yudi dan orangtuanya
bersantai di depan rumah Yudi. Setelah cukup lama kami mengobrol santai, datang
beberapa orang teman Yudi yang mengajaknya bersantai ke pantai Tanjung Batu.
Yudi kemudian meminta izin Pak Ngah Sanif untuk membawaku ikut bersantai juga
ke pantai Tanjung Batu. Pak Ngah Sanif mengizinkan namun ia ingin ikut serta
untuk menjagaku. Kami pun selanjutnya berjalan ke pantai Tanjung Batu. Di
pantai Tanjung Batu kami singgah ke sebuah pondok jualan milik temannya Pak
Ngah Sanif.
Orang-orang di pantai Tanjung Batu hampir merata kenal dengan
Pak Ngah Sanif. Karena jika ada kejadian aneh yang menimpa pengunjung Tanjung
Batu, Pak Ngah Sanif lah yang selalu mereka panggil untuk menyelesaikan hal
tersebut.
Di pondok jualan yang tak berdinding milik temannya Pak Ngah
Sanif ini kami duduk santai. Yudi dan teman-temannya bersantai di tumpukan batu
besar diluar pondok. Aku duduk didalam pondok menghadap ke pantai yang penuh
dengan tumpukan batu besar, dan Pak Ngah Sanif duduk berjarak satu meja
dibelakangku bersama temannya, si pemilik pondok jualan itu. Pak Ngah Sanif
terlihat sangat asyik mengobrol dengan temannya itu.
Aku sangat menikmati suasana malam di tepi pantai saat itu.
Suara ombak dan tiupan angin seperti alunan musik yang menghibur hatiku. Untuk
beberapa saat aku hanyut dalam suasana. Hingga mataku tertuju pada sebuah batu
besar didepan yang tidak jauh dari pondok tempatku duduk. Ku lihat Rina sedang
berdiri diatas batu besar itu. Tubuhnya membelakangi laut dan memandangiku
sambil tersenyum. Ku lihat ia melambai-lambaikan tangannya memanggilku.
Seakan jiwaku telah terkuasai oleh senyum dan lambaian
tangannya, aku pun hendak berdiri untuk pergi menghampirinya. Namun ku rasakan
tubuhku berat sekali seperti ada sesuatu yang menahannya sehingga aku tidak
dapat berdiri. Aku terus mencoba untuk berdiri, namun tetap tidak bisa. Karena
aku tidak juga menghampirinya sehingga ku lihat Rina bergerak perlahan ke
arahku. Ku rasakan mataku saat itu tidak bisa berpaling dari tatapan matanya.
Rina yang berambut sebahu dengan hiasan bendo merah dikepalanya, memakai kaos
putih bergambar dan celana jeans biru ketat perlahan-lahan bergerak semakin
mendekatiku.
Hingga semakin dekat kulihat Rina secara perlahan berubah.
Kulitnya yang putih itu dipenuhi darah. Di leher sebelah kirinya terlihat luka
yang menganga sangat besar. Terlihat darah bercucuran dari luka tersebut.
Telinga kirinya tidak ada, dan terlihat luka besar menganga melewati mata
kirinya hingga ke dahi. Baju dan celananya juga dipenuhi darah. Tangan kirinya
terlihat hampir putus. Jari-jari tangan kanannya hanya tersisa jempol dan jari
telunjuk yang tinggal setengah. Pada dada sebelah kanan terlihat luka yang juga
menganga, begitu juga pada pinggang dan paha kanannya terdapat luka yang sama
dengan darah yang bercucuran.
Seketika itu juga ku rasakan ubun-ubun dan tengkukku terasa
dingin, dan semakin dingin ketika ku lihat Rina yang telah berubah sangat
menakutkan bergerak perlahan semakin mendekatiku. Rasa dingin itu kemudian
menjalar ke seluruh tubuhku hingga ke ujung kakiku. Jantungku seakan berhenti
berdetak dan aku sulit bernafas karena seperti tertahan sesuatu. Tubuhku terasa
sangat tegang dan kaku serta pandangan mataku tetap tertuju kepada tatapan
matanya yang telah berubah sangat tajam dan mengerikan.
Aku benar-benar tidak bisa mengedipkan mataku apalagi
memalingkannya. Ketika Rina yang terlihat sangat mengerikan itu hampir
mendekatiku, tiba-tiba saja pandangan mataku tertutup sesuatu dan tengkukku
terasa panas. Rupanya Pak Ngah Sanif yang mengetahui sedang terjadi susuatu
padaku langsung bergerak cepat menutup mataku dengan tangannya dan tangannya
yang satunya lagi menekan tengkukku.
Meski Pak Ngah Sanif asyik mengobrol dengan temannya itu, ia
terus mengawasiku sehingga ia tahu bahwa sedang terjadi sesuatu padaku. Pak
Ngah Sanif sambil menutup mataku dan menekan tengkukku, kemudian membacakan
sesuatu ke ubun-ubunku sehingga ubun-ubunku terasa panas dari yang sebelumnya
terasa sangat dingin.
Setelah selesai membacakan sesuatu ke ubun-ubunku, Pak Ngah
Sanif menarik tangannya yang menutupi mataku ke arah bawah. Bersamaan dengan
tarikan tangannya ke arah bawah, maka ku rasakan seperti ada hawa panas yang
mengalir ke seluruh tubuhku hingga ke ujung kakiku sehingga hilanglah hawa
dingin yang ku rasakan sebelumnya. Jatungku yang terasa terhenti langsung
berdetak kencang, begitu juga nafasku langsung berderu dengan cepat.
Rina yang wujudnya sangat menakutkan tidak terlihat lagi
dalam pandanganku. Pandangan mataku pun sudah dapat ku alihkan dan tubuhku
dapat di gerakkan, meski jiwaku masih ku rasakan linglung dan jantungku masih
terasa berdetak kencang. Nafasku pun masih turun naik dengan cepat.
Setelah yakin bahwa aku telah sadar, Pak Ngah Sanif langsung
memegang tanganku dan segera membawaku pulang. Yudi dan teman-temannya yang
sedang asyik mengobrol di luar pondok dan melihat hal tersebut langsung
menghentikan obrolan mereka. Mereka tanpa banyak berkata langsung mengikuti Pak
Ngah Sanif yang berjalan cepat menarik tanganku untuk membawaku pulang. Saat
itu aku masih merasakan linglung.
Kami tanpa sempat berpamitan dengan pemilik pondok jualan tempat
kami bersantai langsung pergi begitu saja. Tapi pemilik pondok sangat mengerti
situasi demikian karena para penjual di kawasan Tanjung Batu sangat mengenal
Pak Ngah Sanif dan mengerti jika Pak Ngah Sanif berbuat demikian berarti ada
sesuatu yang membahayakan para pengunjung kawasan wisata tersebut.
Pak Ngah Sanif dengan menarik tanganku, berjalan cepat membawaku
pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Pak Ngah Sanif langsung menyuruh ibunya
Yudi mempersiapkan air satu ember. Tanpa membuka pakaianku Pak Ngah Sanif
langsung memandikanku.
Ketika akan memandikanku, Pak Ngah Sanif membacakan sesuatu
sambil memegang timba yang berisi air yang diambilnya dari ember tersebut.
Selanjutnya ia menyiramkan air ke bagian tengah tubuhku sebanyak tiga kali, dan
ke arah kanan dan kiri tubuhku masing-masing tiga kali. Selesai Pak Ngah Sanif
memandikanku, linglung yang ku rasakan hilang. Jantung dan nafasku normal
kembali. Aku merasa benar-benar telah sadar sepenuhnya.
Setelah Pak Ngah Sanif memandikanku, aku disuruhnya mengganti
pakaianku yang basah. Aku menurutinya dan mengganti pakaianku. Setelah itu aku
duduk di ruang tengah bersama Pak Ngah Sanif, Yudi dan orangtuanya. Pak Ngah
Sanif kemudian bertanya kepadaku apa yang telah ku lihat tadi.
Aku pun menjelaskan bahwa tadi ku lihat Rina dalam wujud yang
sangat mengerikan. Rina yang berambut sebahu dengan hiasan bendo merah dikepalanya,
memakai kaos putih bergambar dan celana jeans biru ketat bergerak perlahan
mendekatiku secara perlahan juga berubah wujudnya. Kulitnya yang putih dipenuhi
darah.
Di leher sebelah kirinya terdapat luka yang menganga sangat
besar dan darah bercucuran dari luka tersebut. Telinga kirinya tidak ada, dan
terdapat luka besar menganga melewati mata kirinya hingga ke dahi. Baju dan
celananya dipenuhi darah. Tangan kirinya hampir putus. Jari-jari tangan
kanannya hanya tersisa jempol dan jari telunjuk yang tinggal setengah. Dada
sebelah kanannya terdapat luka yang menganga, begitu juga pada pinggang dan
paha kanannya terdapat luka yang sama dengan darah yang bercucuran.
Mendengar penjelasanku itu, Pak Ngah Sanif menganggukkan
kepalanya. Yudi dan orangtuanya saling berpandangan. Selanjutnya Pak Ngah Sanif
menjelaskan jika seperti itu penggambaran yang terlihat dari mataku maka wujud
Rina itu seperti mayat yang ditemukan di kawasan Tanjung Batu. Beberapa bulan
yang lalu warga menemukan mayat wanita di pondok tempat ku duduk pada malam
itu.
Wanita tersebut menggunakan pakaian dan dipenuhi luka seperti
yang telah ku jelaskan. Wanita itu memang dibunuh seseorang, namun tidak
diketahui siapa pelakunya. Tentang identitas wanita itu masih simpang siur, ada
yang mengatakan wanita itu berasal dari Pemangkat namun ada juga yang
mengatakan berasal dari Singkawang. Hingga kini tidak tahu bagaimana kelanjutan
penemuan mayat itu apakah pelaku pembunuhnya telah diketahui.
Sebelum kejadian yang telah menimpaku, memang telah ada beberapa
orang baik para penjual ataupun pengunjung kawasan Tanjung Batu yang melihat
penampakan wujud wanita yang sesuai penggambaranku itu.
Agar tidak semakin membahayakan jiwaku, Pak Ngah Sanif
menyuruhku untuk besok pulang ke Pontianak, dan nanti jangan dulu datang ke
kawasan Tanjung Batu hingga aku benar-benar telah lepas dari pengaruh Rina. Aku
pun menuruti perkataan Pak Ngah Sanif itu. Namun untuk besok pulang, Pak Ngah
Sanif dan Yudi akan mengantarku hingga melewati batas kota Singkawang karena Pak
Ngah Sanif khawatir Rina akan mengikutiku. Aku pun kembali menuruti perkataan
Pak Ngah Sanif itu.
Setelah berkata demikian, Pak Ngah Sanif menyuruhku tidur
karena besok selepas Sholat Shubuh aku akan melakukan perjalanan jauh untuk
kembali pulang ke Pontianak. Aku menuruti perkataan Pak Ngah Sanif dan bersama
Yudi langsung masuk ke kamar untuk tidur. Rupanya Pak Ngah Sanif juga tidur di
kamar Yudi, ia tidur di dekatku. Pak Ngah Sanif berkata bahwa ia tidur
didekatku untuk menjagaku selama aku tidur agar tidak di ganggu Rina dan supaya
tidurku bisa pulas sehingga besok aku bisa bangun dengan segar. Maka malam itu
aku benar-benar merasakan tertidur pulas.
--- oOo ---
Sengsaramu tak pernah
ku saksikan,
Kepedihanmu tak dapat
kurasakan,
Siapa dirimu wahai
gadis...?
Mengapa kisah hidupmu
mesti berakhir tragis...?
Mengapa masamu
terhenti dalam kepedihan...?
Apa yang sebenarnya
terjadi padamu wahai gadis...?
Siapa yang membawamu
dalam kemelut tragedi ini...?
Aku hanya dapat
mengenalmu,
Dalam duniaku yang
senyap ini...
Selamat jalan wahai
gadis...
Engkau abadi dalam
tragedi ini...
Pontianak, 4 Juli 1997
Jum’at 11:30 Malam
Langganan:
Postingan (Atom)
SUNGKUI THE TRADITIONAL CULINARY OF SANGGAU
Sungkui is a traditional Sanggau food made of rice wrapped in Keririt leaves so that it is oval and thin and elongated. Sungkui is a typical...
-
TENGKORAK ATAU FOSIL MANUSIA PURBA TERTUA DI ASIA DITEMUKAN DI KALIMANTAN Beberapa Tulang atau Fosil Manusia Purba ditemukan di Ta...
-
EKSPEDISI PAMALAYU Ekspedisi Pamalayu bermula ketika Kerajaan Singhasari mendapat ancaman dari Raja Mongol yaitu Khubilai Khan. Kerajaa...
-
KERAJAAN KAPUHAS KATINGAN (NAN SARUNAI) DALAM PRASASTI YUPA KUTAI Prasasti Yupa ditemukan di Desa Brubus, Kecamatan Muara Kaman, K...






